Budayawan Atmo Tan Sidik: Serambi Mekahnya Brebes Adalah Bumiayu

MENERIMA KAOS - Budayawan Atmo Tan Sidik menerima kaos dari Ketua BCCF Dimas Indiana Senja usai meresmikan BCCF Festival di Pendopo eks Kawedanan Bumiayu, Minggu (12/01/2019). (Foto: Yudhi Prasetyo)

PORTALPANTURA.COM, BREBES:

Budayawan Atmo Tan Sidik menilai, kultur Bumiayu adalah religiusitas, sehingga bisa dikatakan Bumiayu adalah Serambi Mekkahnya Brebes. Hal ini salah satunya direpresentasikan dengan banyaknya pesantren di wilayah ini.

Kultur Bumiayu Menurut Atmo

Atmo yang diwawancara usai membuka Bumiayu Creative City Festival mengatakan, Bumiayu adalah alat Kultur. “Bumiayu dalam konteks ini bukan kewilayahan, tetapi adalah kultur,” katanya.

Mengutip ucapan KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Atmo menyampaikan, Indonesia adalah negeri seperti daging, tidak ada tempat untuk jiwa.

BCCF Festival ini untuk menyejukan Indonesia yang sedang gerah sehingga kegiatan ini sangat diapresiasi. Diharapkan dengan gelaran yang diselenggarakan di Pendopo eks Kawedanan Bumiayu ini bisa menginsirasi daerah lain.

Apa Itu BCCF Festival?

Ketua BCCF, Dimas Indiana Senja mengatakan, kegiatan BCCF Festival ini untuk merangkul semua genre seni yang ada di Kabupaten Brebes wilayah selatan.

“Semua genre ini kita pentaskan di sini, termasuk tari tradisional,” kata Dimas.

Ajang festival tersebut juga sebagai ruang berekspresi bagi seniman yang selama ini tidak punya ruang untuk menunjukan karya seni mereka.

Untuk menunjukan seni maupun memamerkan karya seni yang dihasilkan tidak melulu di galeri, tetapi bisa di mana saja.

BCCF yang didirikan pada tahun 2016 ini sendiri memiliki filsafat ‘Memayu Hayuning Bumiayu’. “Kami ingin mengangkat potensi dan keindahan yang ada di Brebes wilayah selatan dari kesenian, budaya dan sebagainya,” ucap Dimas.

Pengajar di salah satu perguruan tinggi Islam di Purwokerto ini mengungkapkan, selama ini, seniman sering terbelenggu dengan rasa takut salah dalam mengekspresikan sesuatu. Karena itu, BCCF hadir merangkul mereka untuk mengembangkan bakat yang dimiliki.

Saat Kapitalisme Merambah Dunia Percintaan

Dalam BCCF Festival 2020 ini berbagai acar ditampilkan seperti tari lili, tari kuda lumping, parade guru berpuisi, sarasehan, tari geol dilenok, dramatisasi pelajar, patonim, dan lainya.

Pada puncak acara juga digelar teater Karnaen yang menceritakan kaum miskin atas dominasi sekaligus pengaruh kaum kapitalis yang seolah-olah kebahagiaan hanya milik orang bermodal, padahal kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan semu.

“Kapitalisme juga telah merambah ke sektor percintaan,” tutur Dimas. (*)

Baca juga

Tulis komentar dibawah ini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Powered by