Makadamia. Foto: Istimewa.

PORTALPANTURA.COM, INSIGHT:

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SH MH merekomendasikan masyarakat untuk menanam tanaman makadamia di lahan mereka. Tanaman ini dipercaya berfungsi pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Tanaman macadamia banyak dipilih untuk rehabilitasi hutan dan lahan dengan nilai ekologi dan ekonomi yang tinggi.

Makadamia ini merupakan pohon dengan batang licin dan memiliki warna cokelat terang, sementara daunya berwarna gelap dan licin mengkilap dengan bantuk lanset seperti gada kecil. Tanaman ini memiliki bunga yang tumbuh dari ketiak daun pada ranting kecil dan berwarna putih, pink, hingga purpel dengan tekstur halus seperti sikat.

Makadamia juga berbuah. Buah makadamia ini tumbuh pada pada tangkai bunga berupa dompolan. Bentuk buahnya seperti duku, namun buah makadamia memiliki batang yang lebih panjang dengan warna kulit hijau gelap. Di dalam buah makadamia terdapat kacang makadamia berbentuk bulat sekitar 3 centimeter dengan warna putih kekuningan. Kacang makadamia memiliki tekstur lunak dan rasa yang gurih.

Pembudidayaan makadamia biasany untuk dimanfaatkan kacangnya, adapula sebagai tanaman hias baik sebagai tanaman peneduh maupun tanaman hias dalam pot.

Buah makadamia setelah dipanen bisa dimasak dengan menyak goreng maupun dioven, agar memiliki ekonomis, kacang makadamia dijual dipasaran.

Makadamia sendiri adalah jenis asli family Proteaceae, genus Macadamia F. Muell, yang terdiri dari delapan spesies. Tujuh spesies merupakan tumbuhan asli bagian timur Australia, yakni Macadamia claudiensis; Macadamia grandis; Macadamia integrifolia; Macadamia jansenii; Macadamia ternifolia; Macadamia tetraphylla; dan Macadamia whelanii. Satu spesies berasal dari Indonesia (Sulawesi), yakni Macadamia hildebrandii. Genus tumbuhan ini diberi nama makadamia, untuk menghormati ahli botani yang pernah menelitinya, yakni John Macadam. Nama lainnya adalah Queensland nut, Bush nut, dan Maroochi nut. Masyarakat Aborigin, menyebutnya names Kindal Kindal dan Jindilli.

Dari delapan spesies makadamia itu, hanya dua spesies M. integrifolia dan M. tetraphylla, yang dibudidayakan secara komersial. Dua spesise makadamia malahan beracun, yakni M. whelanii and M. ternifolia. Namun racun cyanogenic glycosides, yang terkandung dalam bijinya, bisa dinetralkan dengan proses pengeringan dan penggorengan lebih lama. Masyarakat Aborigin tetap mengkonsumsi dua spesies makadamia ini, karena mereka tahu betul cara menetralkan racunnya. Makadamia yang dibudidayakan sekarang ini, umumnya merupakan hibrida antara M. integrifolia atau M. tetraphylla, dengan M. tetraphylla yang sudah sangat langka, yang diketemukan di gunung Bauple, dekat Maryborough, sebelah tenggara Queensland.


Di Indonesia, tanaman makadamia bisa dijumpai di Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, makadamia juga bisa tumbuh dengan baik dan berbuah, juga bisa dijumpai tanaman makadamia Di Pusat Penelitian Hortikultura di Cikole, Lembang, Bandung. Saat ini, sudah dibudidayakan secara serius di Perkebunan Kalisat Jampit, dan Perkebunan Sempol di dataran tinggi Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Di perkebunan ini, makadamia sudah berbuah dan sudah diolah, meskipun volumenya masih sangat terbatas dan hanya dijual di lokasi kebun kepada para wisatawan. Sampai sekarang, dua perkebunan ini masih terus membenihkan makadamia untuk memperbanyak populasi tanaman. Di perkebunan ini, makadamia di tanam di tepi petakan tanaman kopi, serta di lereng-lereng yang tidak mungkin ditanami kopi.

Sebagai tanaman keras, makadamia baru akan mulai berbuah pada umur 7 sampai dengan 10 tahun. Kelemahan makadamia adalah perakarannya dangkal, hingga pohonnya mudah tumbang apabila diterjang angin. Akar makadamia juga rentan terhadap jamur Phytophthora. Buah sendiri, sering menjadi sasaran serangan larva (ulat) Lepidoptera, termasuk Batrachedra arenosella. Namun pada perkebunan dengan skela komersial, serangan jamur maupun larva ini bisa dikendalikan dengan biaya yang masih tertanggulangi oleh hasil makadamia itu sendiri. Limbah tempurung makadamia, biasanya digunakan sebagai bahan bakar dalam proses penggorengan daging buah. Kayu makadamia juga sangat keras, hingga hasil pangkasan cabang, bisa dimanfaatkan untuk bahan arang. Selain dikonsumsi sebagai nut maupun untuk pengisi cokelat, daging buah makadamia juga bisa diambil minyaknya dengan rendemen sekitar 30%. Minyak makadamia sendiri, juga mengandung sekitar 22% Omega-7 palmitoleic acic[2], yang digunakan untuk industri kosmetika. Dengan potensi seperti itu, makadamia layak untuk dibudidayakan secara komersial, dalam skala yang cukup luas. Tinggal mencari kawasan dataran tinggi, terutama dai kawasan yang agroklimatnya cukup kering. (Puslitbangbun Bogor)

Leave a Reply

  • (not be published)