PortalPantura.com, Brebes – Untuk mendukung percepatan pertumbuhan industri alat kesehatan nasional (alkes), PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menggelar Initial Ceremony Pembangunan Pabrik Alat Kesehatan (Alkes), Kamis (12/12), di Kecamatan Kersana, Brebes. Kegiatan yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) B. Didik Prasetyo, Bupati Brebes Idza Priyanti, Komisaris Utama RNI Ramelan, serta Calon Investor dari Korea Selatan Direktur Insung Medical Co. Jun Ho Song dan Direktur Tae Chang Industrial Co. Hanjin In tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan ortofolio produk Alkes RNI sehingga membuka peluang ekspor.

Menurut Didik Prasetyo, pembangunan pabrik Alkes tersebut merupakan hasil dari kerjasama antara anak perusahaan RNI Group, yaitu PT Mitra Rajawali Banjaran yang bergerak dalam bidang alat kesehatan dengan PT PG Rajawali II sebagai pemilik aset lahan eks Pabrik Gula Ketanggungan seluas 25 Ha. Dalam proyek ini, PT Mitra Rajawali Banjaran bertindak sebagai leader.

“Pembangunan pabrik juga akan menggunakan skema kerjasama dengan investor asing. Dengan masuknya investasi dari luar maka akan membuka peluang ekspor produk Alkes RNI ke beberapa negara,” ujarnya.

Didik menambahkan, kerjasama yang akan dibangun diharapkan mendorong masuknya investor asing ke dalam negeri, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi tumbuhnya iklim investasi di provinsi Jawa Tengah. “Investasi tersebut diharapkan dapat berkontribusi meningkatkan pendapatan daerah serta membuka lapangan kerja baru, sehingga berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, khususnya kabupaten Brebes,” kata Didik

Lebih lanjut, Didik mengatakan, pabrik tersebut akan dipersiapkan untuk memproduksi kebutuhan Alkes khususnya jenis bahan medis habis pakai (BMHP), sebagai produk yang paling banyak digunakan untuk keperluan pengobatan pasien di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Ia menambahkan, produk BMHP yang akan diproduksi diantaranya sejenis catheter, tube, dan kantung darah mengingat produk tersebut banyak dibutuhkan di unit pelayanan gawat darurat (UGD), ruang operasi, ICCU, ruang perawatan dan Puskesmas yang memiliki ruang perawatan.

“Produk sejenis catheter, tube, dan kantung darah termasuk kebutuhan rutin, sehingga persediaan produknya harus dalam posisi ready stock untuk sewaktu-waktu digunakan,” ujarnya.

Pengembangan bisnis Alkes ini juga tidak terlepas dari upaya RNI dalam mendukung percepatan industri Alkes nasional sesuai dengan Instruksi Presiden No.6 Tahun 2016. Pasar Alkes sendiri masih sangat potensial, berdasarkan data Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), nilai pasar alat kesehatan untuk semua kategori di tahun 2018 diperkirakan mencapai angka 13,5

triliun dengan tingkat pertumbuhan 10%. Namun, hampir 92% produk yang ada di pasar dalam negeri merupakan produk-produk import yang mencakup produk teknologi tinggi seperti MRI, CT scan dan produk patient aid lainnya, selebihnya sebanyak 8% merupakan produk dalam negeri terutama kelompok hospital furniture. Produk alat kesehatan bahan medis habis pakai juga masih didominasi oleh produk import, sedangkan yang sudah diproduksi dalam negeri umumnya produk-produk sejenis plester dan kasa.

(kw01tgl)

Leave a Reply

  • (not be published)