5 Orang Diduga Peras Kepsek, Mereka Mengaku Wartawan

Header Menu

5 Orang Diduga Peras Kepsek, Mereka Mengaku Wartawan

Kamis, 29 November 2018

Oknum tersebut dalam melakukan aksinya menakut-nakuti korban akan dilaporkan ke penegak hukum apabila tidak mau menyerahkan sejumlah uang



PEMALANG - 5 oknum yang mengaku sebagai wartawan ditangkap tim Saber Pungli dan Satreskrim Polres Pemalang.

Ke 5 orang tersebut ditangkap karena telah meresahkan kepala sekolah-kepala sekolah di Kabupaten Pemalang. Dalam bertindak, mereka kerap melakukan aksi pemerasan yang disertai dengan ancaman.

Ke 5 wartawan yang ditangkap tersebut yakni Sunardi alias Leo Nardi warga Desa Pedagangan Kecamatan Dukuh Turi Kabupaten Tegal, Sutrisno warga Jalan Gurame Kelurahan Widuri Kecamatan/Kabupaten Pemalang, Riyanto warga Desa Kaligangsa Wetan Kecamatan/Kabupaten Brebes, Nawang Elin warga Desa Pesarean Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal, dan Aris Hadi warga Desa Kaligangsa Kecamatan/Kabupaten Brebes.

Wakapolres Pemalang Kompol Malpa Malacoppo, seperti dikutip sejumlah media menyebutkan, penangkapan terhadap terduga pemerasan tersebut berkat laporan dari pihak sekolah yang melaporkan adanya oknum-oknum yang kerap datang ke sekolah untuk meminta sejumlah uang.

Modus yang digunakan pelaku adalah melaporkan sekolah ke Polres tentang adanya dugaan penyelewengan dana BOS di sejumlah sekolah.

"Dari laporan itu, mereka menerima laporan atau surat tanda terima pengaduan dari Polres." Kata Malpa. Surat itulah yang disalahgunakan dan dimanfaatkan untuk menakut-nakuti dan memeras beberapa sekolah.

Beberapa sekolah yang telah menjadi korban pelaku diantaranya SMK PGRI 2 Taman sebesar Rp30 juta, SMK PGRI 1 Taman sebesar Rp30 juta, SMK Satya Praja Petarukan sebesar Rp30 juta, dan SMK Nusantara Comal Rp40 juta.

Atas perbuatanya itu, ke 5 pelaku ditangkap di Kantor Sekretariat Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) di kawasan objek wisata Widuri Pemalang.

Sebelum ditangkap, oknum yang mengaku sebagai wartawan tersebut baru saja melakukan pemerasan  terhadap kepala SMK PGRI 3 Randudongkal Pemalang.

Pelaku mengancam kepala sekolah akan melaporkan ke penegak hukum atas dugaan penyelewengan dana biaya BOS jika tidak memberikan uang ke pelaku. Ancaman tersebut dilayangkan melalui pesan singkat.

Kepala sekolah yang ketakutan itu kemudian mendatangi kantor AWDI dengan menyerahkan uang sebesar Rp30 juta.

Atas perbuatan yang dilakukan para pelaku, mereka dijerat dengan pasal 368 juncto 378 tentang pemerasan dan penipuan dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara. (Mdh/Cj)