Mengenal Enam Kecamatan yang Menjadi Bagian dari CDOB Kabupaten Brebes Selatan

Header Menu

Mengenal Enam Kecamatan yang Menjadi Bagian dari CDOB Kabupaten Brebes Selatan

Rabu, 07 November 2018

Kabupaten Brebes wilayah selatan yang terdiri dari enam kecamatan memiliki potensi yang luar biasa dan layak untuk dikembangkan. Dari 6 Kecamatan yang ada, setiap kecamatanya memiliki potensi yang beragam sehingga tidak mengherankan jika daerah tersebut berkeinginan untuk memisahkan diri dari Kabupaten Brebes.

Jembatan Saka Lima Belas yang lebih dikenal dengan Sakalibel sebelum dibangun jembatan baru di sampingnya ini merupakan ikon bagi Kota Bumiayu yang terkenal. - Foto: Dok. Istimewa.


BUMIAYU - Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Brebes yang di gelar pada Senin, 05 November 2018 lalu menyetujui Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Brebes Selatan.

Setelah menjadi kabupaten tersendiri, nantinya Kabupaten Brebes Selatan mencakup enam kecamatan yakni Kecamatan Tonjong, Sirampog, Bumiayu, Paguyangan, Bantarkawung, dan Salem.

Di setiap kecamatan tersebut memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Berikut ulasanya:

1. Tonjong

Kecamatan Tonjong yang terletak di atas ketinggian 175 dpl (diatas permukaan laut) ini terdapat perkebunan durian yang sangat terkenal yang terletak di Desa Rajawetan.

Perkebunan durian ini berpotensi dikembangkan menjadi sarana wisata alam yang menarik untuk dikunjungi.

2. Sirampog

Sirampog memiliki letak geografis yang beragam yakni dataran sedang dan dataran tinggi. Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Tegal tersebut memiliki potensi-potensi yang bisa dikembangkan.

Letak geografisnya yang tinggi cocok untuk ditanami sayur mayur untuk mensuplai kebutuhan masyarakat. Bahkan, sayur mayur yang dihasilkan tersebut dipasarkan di luar daerah seperti Ajibarang dan Cilacap.

Sirampog juga memiliki sumber daya alam melimpah. Beberapa sumber mata air telah dimanfaatkan PDAM untuk mensuplai kebutuhan air di dalam kecamatan sendiri maupun kecamatan tetangga seperti Bumiayu, Tonjong, dan Bantarkawung. Bahkan, pelanggan PDAM di Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Brebes Utara suplai airnya berasal dari Sirampog.

Alam yang Indah juga menjadi daya tarik bagi Sirampog. Berbagai objek wisata menarik untuk dikunjungi seperti Curug Putri, Curug Cantel, Bukit Bapar, dan objek wisata lainya.

3. Bumiayu

Bumiayu yang akan dijadikan ibu kota Kabupaten Brebes Selatan jika resmi dimekarkan ini memiliki pasar yang sangat terkenal yakni pasar wage. Selain itu juga terdapat stasiun kereta api, dan terminal.

Dalam bidang kuliner, Bumiayu juga memiliki kuliner khas seperti kerupuk rambak dan ketan pencok.

Dalam bidang kesehatan, sejumlah rumah sakit juga berdiri di Bumiayu seperti RSUD Bumiayu, RSU Muhammadiyah Siti Aminah, RS Alam Medica, dan RS Siti Amalia.

4. Paguyangan

Paguyangan terletak di ujung selatan Kabupaten Brebes yang berbatasan langsung dengan Kebupaten Banyumas. Di Kecamatan Paguyangan sendiri terdapat objek-objek wisata yang patut dikunjungi seperti agrowisata Kaligua, Telaga Ranjeng, Waduk Penjalin, dan Pemandian air panas Tirta Husada.

Teh khas Kaligua menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki Kecamatan Paguyangan. Di kecamatan ini juga terdapat kuliner yang jarang ditemui di tempat lain, yakni ikan betutu. Ikan betutu ini memiliki rasa yang khas dan hanya terdapat di waduk penjalin.

5. Bantarkawung

Kecamatan Bantarkawung terdiri dari 12 desa. Meskipun berada di Jawa Tengah, dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa sunda dalam berkomunikasi. Namun mereka juga bisa berbahasa jawa ngoko.

Pertanian menjadi andalan pencaharian masyarakat di Kecamatan Bantarkawung.

Di Kecamatan bantarkawung juga terdapat objek wisata pemandian air panas Cipanas yang terletak di Dukuh Tanjung, Desa Pangebatan.

6. Salem

Kecamatan Salem memiliki luas 15.402 hektar yang terdiri dari 21 desa. Penduduk setempat dalam keseharianya memakai bahasa sunda seperti halnya penduduk di Kecamatan Bantarkawung.  Laman wikipedia.org menyebut, daerah Salem dulu termasuk dalam wilayah Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pajajaran.

Masih dikutip dari laman wikipedia.org, Daerah Sunda di daerah Salem dan sekitarnya mempunyai perbedaan kebiasaan dengan daerah Sunda lainnya (Priangan, Banten, Karawang, dsb). Perbedaan tersebut terutama dapat dilihat dalam hal adat budaya, bahasa, detail bentuk-bentuk kesenian, dan juga dalam tatacara beragama. Tata cara beragama penduduk Salem kelihatannya masih terdapat unsur kegamaan Hindu dengan campuran campuran adat setempat yang kental. Pada zaman Hindia Belanda, penduduk Salem masih ada yang melestarikan atau melaksanakan praktek perkawinan model animisme. Misalnya, jika penduduk bermaksud hendak melaksanakan pernikahan, maka mereka akan mendaki dahulu ke lereng Gunung Sagara. Jika di lereng Gunung Sagara terlihat ada burung yang melakukan perkawinan, artinya kedua mempelai tersebut direstui oleh penghuni Gunung Sagara.

Salem memiliki wisata yang terus berkembang seperti Ranto Canyo, Bukit Clapar, dan lain sebagainya. (*)

Penulis: Tim Redaksi