Penanganan Tanggul Sungai Sebatas Darurat, Banjir Bisa Jadi Ancaman

Header Menu

Penanganan Tanggul Sungai Sebatas Darurat, Banjir Bisa Jadi Ancaman

Senin, 19 November 2018

Banjir besar yang melanda Brebes tahun 2017 lalu salah satu penyebabnya karena tanggul yang rusak. Meskipun mengakibatkan banjir, pihak terkait belum melakukan perbaikan tanggul secara permanen. Kondisi tersebut bisa berpotensi banjir apabila sungai meluap.

Warga meninjau titik tanggul yang mengalami kritis. - Foto: Ripto.

BREBES - Sedikitnya 200 titik tanggul sungai-sungai di Kabupaten Brebes dalam kondisi kritis, padahal sebelumnya telah dilakukan upaya perbaikan namun hanya bersifat darurat yang hanya sebatas menanggulangi luapan banjir.

Meskipun banyak titik tanggul dalam keadaan kritis, namun penanganan yang dilakukan belum maksimal karena keterbatasan anggaran. Selain itu, kendala lainya adalah tidak dimilikinya alat berat oleh dinas teknis.

"Anggaran perbaikan tanggul telah diajukan ke provinsi maupun pusat, namun perbaikanya terbentur anggaran." Kata Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Air Dinas PSDA dan Taru Kabupaten Brebes, Mulyadi.

Sementara, kerusakan pada tanggul-tanggul sungai telah dipetakan oleh Dinas PSDA dan Taru Kabupaten Brebes. Dari hasil pemetaan tersebut, ada dua titik tanggul di sungai Pemali dan Cisanggalu.

Tanggul sungai Pemali mulai dari bendung Notong hingga muara ada 28 titik kerusakan yang perlu segera ditangani secara permanen. Titik-titik tersebut masuk wilayah Wanasari, Terlangu, Pulosari, Sidamulya, Tengki dan beberapa wilayah lainya.

Dari titik-titik tersebut terjadi luapan air sungai yang mengakibatkan banjir besar. Banjir tersebut karena tanggul tidak mampu menahan luapan air sungai serta permukaan tanggul yang tidak rata karena amblas.

Untuk tanggul-tanggul yang kritis di sungai Cisanggarung titik-titik kerusakan berada di daerah Bojongsari, Randusari, Babakan, Bantarsari, Jatisawit dan Karangsembung. Keadaan di daerah tersebut, tanggul mengalami longsor sehingga mengakibatkan badan tanggul menjadi tipis.

Meskipun tanggul-tanggul tersebut dalam keadaan kritis, namun penangannya masih bersifat darurat. Seperti di sungai Pemali, penanganan tanggul hanya dilakukan dengan menambal tanggul dengan karung berisi tanah maupun pasir.

Penanganan yang sama juga dilakukan di sungai Cisanggarung. Namundi sungai tersebut di beberapa titik penanganan darurat dilakukan dengan sistem bio enginering. "Tanggul yang kritis ditanami bambu sehingga akar serabut tanaman akan menimbulkan sedimentasi sehingga ketahanan tanggul akan sedikit menguat." Tutur Mulyadi. (*)


Pewarta: Ripto