Petani di Tegal Kembangkan Biji Bawang Merah TSS

Header Menu

Petani di Tegal Kembangkan Biji Bawang Merah TSS

Selasa, 04 Desember 2018

Biji bawang yang dikembangkan tersebut Diharapkan Mampu Tingkatkan Produksi

Kepala Perwakilan BI Tegal meninjau bibit panen perdana bawang merah TSS yang dikembangkan petani Tuwel, Tegal. (Foto: Wijayanto/PortalPantura)

TEGAL- Petani bawang merah di Desa Tuwel Kabupaten Tegal yang merupakan binaan Kantor Perwakilan ‎Bank Indonesia (BI) Tegal melakukan panen perdana biji bawang merah True Shallot Seed (TSS), Selasa (4/12) siang. Produksi biji hasil pengembangan umbi tanaman itu diharapkan bisa meningkatkan kembali produksi bawang merah.

Panen dilakukan di lahan demplot TSS seluas 0,2 hektare di Desa Tuwel Kecamatan Bojong. Biji bawang merah TSS yang dikembangkan di lahan ini berasal dari umbi tanaman bawang merah varietas Bima Brebes‎ yang merupakan varietas lokal berkualitas bagus.

‎Ketua Kelompok Tani Mekar Jaya Brebes, Hadi Sutomo, menerangkan, pengembangan dilakukan untuk menciptakan generasi pertama biji dari umbi tanaman bawang merah varietas Bima Brebes. "TSS ini umbi varietas Bima Brebes ‎yang dibijikan‎," terang Hadi di sela panen.

‎Menurut Hadi, dari lahan demplot pengembangan seluas 0,2 hektare, ditargetkan bisa memanen 80 biji. Sementara untuk masa produksinya mulai dari pemetikan pertama hingga panen selama 110 hari dan empat bulan. "Setelah ini (petik pertama), proses selanjutnya nanti dikeringkan dan dibijikan‎," jelasnya.

‎Menurut Hadi, dibandingkan tanaman umbi, biji bawang merah TSS memiliki sejumlah keuntungan di antaranya menghemat biaya tanam.

"Harga umbi Rp25.000 per kilo sehingga kalau (tanam) satu hektare total bisa Rp30 juta. Sedangkan harga biji TSS per kilo Rp2,5 juta dengan kebutuhan untuk satu hektare lima kilo," jelasnya.

Sementara itu, ‎Kepala Perwakilan BI Tegal Joni Marsius mengatakan, penanaman biji bawang merah TSS merupakan kerjasama antar daerah yakni antara Pemerintah Kabupaten Brebes dan Tegal yang difasilitasi BI. 

"Kita ingin memurnikan biji bawang merah untuk meningkatkan kembali produksi bawang merah petani Brebes yang mengalami penurunan," kata Joni.

‎Menurut Joni, dibandingkan dalam bentuk tanaman umbi, biji TSS akan lebih menghemat biaya pengiriman jika dijual, selain juga meningkatkan efisiensi dalam budidaya bawang merah.

"Kalau mau dijual biaya transportasinya lebih murah karean satu hektare beratnya lima kilo. Kalau umbi bisa sampai 1,2 ton. Jadi lebih hemat cost dan gampang dikirim," ujarnya.

Kasi Perbenihan dan Perlindungan Bidang Holtikultura dan Perkebunanan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Joko Triyatno mengucapkan terimakasih kepada BI dan Pemerintah Kabupaten Tegal karena petani bawang merah Brebes dibantu menanam dan mengembangkan biji TSS.

‎"Harapan ke depan bisa dikembangkan di wilayah Brebes juga. ‎Ini merupakan terobosan. Mengingat potensi bawang merah dari umbi produksinya cenderung menurun. Makanya kita perlu varietas baru, sehingga produksi bisa meningkat. Mungkin ini bisa menjadi solusi," tandasnya. (*)

Pewarta: Wijayanto