‎Selewengkan 20 Ton Pupuk Bersubsidi, IRT Ditangkap

Link Banner


Ani ditangkap karena menjual dengan harga diatas HET


Ani ditangkap polisi karena dituding menjual pupuk bersubsidi diatas HET. (Wijayanto/PortalPantura)

TEGAL - Tim Resmob Polres Tegal menangkap Ani Yuli Yanah (38), warga Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal karena kedapatan menyelewengkan pupuk bersubsidi serta menjualnya harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Penangkapan ibu rumah tangga yang memiliki toko pertanian di Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes itu dilakukan Tim Resmob Polres Tegal setelah polisi melakukan penyelidikan terkait penyimpangan penyaluran dan harga pupuk bersubsidi yang diduga dilakukannya.

"Penangkapan tersangka dilakukan Selasa, 4 Desember 2018 karena penyalahgunaan distribusi pupuk bersubsidi," ungkap Kapolres Tegal AKBP Dwi Agus Prianto, saat gelar ungkap kasus di Mapolres Tegal, Jumat (7/12/2018).

Dwi membeberkan, tersangka merupakan pengecer pupuk bersubsidi. Pupuk yang diterima tersangka dari distributor seharusnya disalurkan ke petani di wilayah penyalurannya yang meliputi Desa Kalialang, Kalipucang, dan Tembelang Kecamatan Jatibarang. Namun oleh tersangka justru dijual di wilayah Kendal.

‎"Oleh tersangka pupuk dijual ke penadsg  di Kendal, karena ada keuntungan lebih jika dijual ke sana.‎ Dijualnya dengan harga Rp120 ribu per sak atau melebihi HET sebesar Rp115 ribu per sak," papar Dwi.

Selain menangkap tersangka, polisi juga bergerak melakukan penggerebekan di gudang penyimpanan di Desa Lemahduwur Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal.‎ Di gudang itu didapati 400 sak pupuk Ponska yang baru dipindahkan dari toko tersangka dan hendak dikirim ke Kendal menggunakan sebuah truk tronton.

Hasil pemeriksaan terhadap sopir dan kernet truk tronton di lokasi, ‎diketahui 400 sak pupuk dengan tiap sak memiliki berat 50 kg tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen. Pupuk dan tronton itu pun langsung diamankan sebagai barang bukti.

‎"Pengakuan tersangka, perbuatannya baru dilakukan sekali. Tapi penyidik masih terus melakukan pengembangan, termasuk kemungkinan adanya keterlibatan pihak-pihak lain. Kita sangat atensi pada kasus ini karena ini terkait kebutuhan petani. Potensi kerugian dalam kasus ini sekitar Rp400 juta," tandas Dwi.

Tersangka dijerat dengan pasal 30 ayat (2) Permendagri Nomor 15 Tahun 2013 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian Jo pasal 2 Perpres Nomor 15 Tahun 2011 tentang perubahan atas perpres nomor 77 tahun 2005 tentang penetapan pupuk bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan jo pasal 4 dan 8 Perpu Nomor 8 Tahun 1962 tentang perdagangan barang-barang dalam pengawasan jo pasal 6 ayat (1) Undang-undang Darurat Nomor 7 Tahun 1955. Tersangka terancam hukuman penjara selama dua tahun.

"Tersangka tidak ditahan karena alasan subyektif dan obyektif penyidik, serta kemanusian karena tersangka memiliki anak yang masih kecil," imbuh Dwi Agus. (*)

Pewarta: Wijayanto

Loading...
Informasi liputan, kritik dan saran hubungi:
Email: portalpantura@gmail.com
Telepon/SMS:
081-904-941-123
Komentar: