Kades dan Polisi Gadungan Terjaring OTT Polres Tegal

Kades dan Polisi Gadungan Terjaring OTT Polres Tegal

Kamis, 28 Februari 2019

Slawi, PortalPantura.com -- Seorang oknum Kades di Kabupaten Tegal,  Jawa Tengah,  terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Satreskrim Polres Tegal terkait dugaan pemerasan terhadap PNS Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tegal dan rekanan yang mengerjakan sebuah proyek infrastruktur di Kabupaten Tegal. Polisi mengamankan uang Rp100 juta.

Kapolres Tegal AKBP Dwi Agus Prianto (nomor dua dari kiri) saat memberi penjelasan kepada wartawan seputar OTT. (Foto: Wijayanto)

Polres Tegal menggelar rilis kasus tersebut,  Kamis (28/02/2019) siang menghadirkan kedua tersangka,  yakni Mohammad Zaenudin (32) yang diketahui merupakan Kepala Desa Kedungjati Kecamatan Warureja Kabupaten Tegal. Sedangkan satu orang lainnya adalah Rizal Iskandar (36) warga Desa Grogol Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon.

Penangkapan kedua tersangka bermula saat polisi menerima laporan dari korban (Kontraktor dan PNS DPU) pada Rabu (27/02/2019) siang,  terkait dugaan pemerasan yang dilakukan dua tersangka. Berdasarkan laporan tersebut,  Polisi menangkap tersangka Mohammad Zaenudin di sebuah warung makan di depan SMAN 3 Slawi sekira pukul 12.30 WIB.

Oknum kades itu ditangkap saat menerima penyerahan uang sebesar Rp100 juta dari rekanan yang diperas olehnya bersama tersangka Rizal Iskandar. Saat diserahkan, uang dalam bentuk pecahan Rp100 ribu itu dibungku‎s plastik kresek berwana hitam.

Setelah penangkapan Mohammad Zaenudin, polisi kemudian melakukan pengembangan dan kemudian menangkap tersangka Rizal Iskandar di ‎warung sate ayam Bang Dul, depan exit tol Kalimati Kecamatan Adiwerna sekira pukul 14.00 WIB. Penangkapan itu berhasil dilakukan setelah tersangka dipancing bahwa Zaenudin akan menyerahkan uang yang sudah diterima dari korban.

Kapolres Tegal AKBP Dwi Agus Prianto mengungkapkan, ‎para tersangka melakukan pemerasan dengan modus menakut-nakuti korban bahwa ada proyek yang dikerjakan  sedang diawasi oleh aparat penegak hukum.

"Modus tersangka menawarkan‎ bantuan mengatasi permasalahan dengan dalih ada aparat penegak hukum di Jakarta yang sedang melakukan pengawasan. Mereka minta imbalan Rp500 juta. Dari jumlah itu, baru diserahkan Rp100 juta saat dilakukan OTT," terang Dwi Agus, Kamis (28/2/2019).

Menurut Dwi, kepada para korban yakni rekanan dan aparatur sipil negara (ASN), salah satu tersangka mengaku sebagai polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dan punya kerabat yang bekerja di salah satu lembaga penegak hukum di Jakarta.

"Tersangka R (Rizal Iskandar) mengaku bernama Herman dan lulusan Akpol berpangkat AKBP. Sedangkan tersangka Z (Mohammad Zaenal) setelah kita cek, memang benar kepala desa aktif," ungkapnya.

Dwi menambahkan, kedua tersangka dipersangkakan dua pasal, yakni pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 368 tentang pemerasan. Pasal 378 dikenakan karena tersangka Rizal Iskandar mengaku memiliki anggota keluarga yang menjadi petinggi aparat penegak hukum di Jakarta dan alumni Akpol 2008 denan pangkat AKBP.

Sementara pasal 368 dikenakan karena ada unsur pemaksaan dan intimidasi ‎kepada ASN agar menyerahkan uang Rp500 juta dengan dalih ada tim penegak hukum dari Jakarta yang sedang melakukan pengawasan terhadap proyek infrastruktur di salah satu wilayah Kabupaten Tegal.

"Ada unsur-unsur rangkaian kata-kata bohong dan keadaan palsu. ‎Sehingga kita persangkakan pasal 378 dengan ancaman hukuman penjara sembilan tahun dan pasal 368 dengan ancaman hukuman penjara empat tahun," tandas Dwi.

Selain menangkap dua tersangka, penyidik Satreskrim juga diketahui memeriksa sejumlah pejabat dan PNS DPU Kabupaten Tegal, Kamis (28/2/2019). Yakni Kepala DPU Hery Suhartono Kabid Jalan DPU Munadi, dan staf DPU Sulistiro. Ketiganya diperiksa sebagai saksi.

"Mereka hanya sebagai saksi," pungkas Dwi.***




(Wijayanto)