Arti bunyi kentongan selain tanda waktu sholat

Arti bunyi kentongan selain tanda waktu sholat

Jumat, 17 Mei 2019

Poskamping Desa Cikuya, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes ini dibangun melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-100 tahun 2017 lalu. Foto: Dok. Pendim 0713 Brebes

PortalPantura.com, Brebes -- Selain bedug, kentongan sejak lama dipakai sebagai tanda waktu masuk sholat di tempat-tempat ibadah seperti masjid dan mushola.

Kentongan juga dipakai sebagai alat komunikasi penduduk. Alat ini juga biasa terpasang di rumah-rumah penduduk maupun poskampling pada jaman dahulu. Meskipun sekarang masih ada, namun jarang sekali dijumpai.

Di Desa Cikuya, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, warga desa masih menggunakan kentongan sebagai alat komunikasi.

"Setiap bunyi kentongan memiliki arti atau tanda berbeda-beda," kata salah seorang warga setempat, Ahmad (45).

Ia menutukan, kentongan yang dipukul 3 kali berturut-turut menandakan ada warga desa yang meninggal. Namun jika kentongan dipukul 2 kali terus-menerus dengan 1 jeda itu artinya ada kejadian kriminal atau perampokan. Sementara jika dipukul 3-3 berturut-turut tandanya ada kebakaran.

Berikut arti pukulan kentongan; untuk bencana alam dipukul 4-4, pencurian 5-5 serta uluk-uluk 6-6 terus-menerus. Untuk tanda patroli atau ronda, kentongan dipukul satu kali dan ditambah 3 kali pukulan selanjutnya, dilakukan secara terputus putus. Sedangkan tanda keadaan aman, kentongan dipukul 1 kali terus-menerus setiap satu jam sekali.

Serma Aan Setyawan dari Penerangan Kodim 0713 Brebes mengatakan, kentongan merupakan sarana yang efektif sebagai alarm penduduk untuk mengetahui kejadian-kejadian menonjol di wilayahnya seperti bencana alam, kriminalitas, dan lain sebagainya.

“Tanda tradisional ini akan sangat efektif sebagai alarm penduduk untuk mengetahui jika ada kejadian kriminalitas maupun bencana alam,” ucap Aan.

Sementara, kentongan yang ada di Desa Cikuya tersebut merupakan properti poskamling desa yang dibangun melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-100 pada tahun 2017 lalu.
(Yudhi/Aan/Pendim0713Bbs)