Petani di Bantarkawung Keluhkan Bendung dan Irigasi Rusak

Petani di Bantarkawung Keluhkan Bendung dan Irigasi Rusak

Selasa, 03 September 2019


PortalPantura.com, Brebes - Petani di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes mengeluhkan bendung dan saluran irigasi yang rusak. Akibatnya, ratusan hektar sawah di lima desa di Kecamatan Bantarkawung kekeringan.

Bendung yang rusak adalah bendung Petahunan. Bendung tersebut berada di sungai Cigunung, Desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya saluran irigasi yang menjadi saluran air ke persawahan petani.

Salah seorang petani, Dedi (60) menuturkan, akibat bendung dan saluran irigasi rusak dirinya dan petani lainya tidak bisa menanam padi semestinya. Jika sebelum ada kerusakan dirinya mampu menanam tiga kali dalam satu tahun, setelah mengalami kerusakan dirinya hanya bisa menanam satu kali dalam satu tahun saja.

"Kalau dulu saat musim kemarau kita masih bisa mendapat air, namun sekarang tidak bisa," kata Dedi.

Dedi mengatakan, jika petani hanya menanam padi satu kali dalam satu tahun itu sama saja dengan menanam padi tadah hujan. Kondisi ini tidak hanya dialami saat musim kemarau saja tetapi juga pada musim penghujan, hal ini karena terkadang tanggul irigasi jebol sehingga air hilang ditengah jalan dan tidak sampai ke lahan persawahan petani.

Dedi berharap pemerintah memperhatikan bedung Petahunan yang menjadi tumpuan dirinya dan ratusan petani lainya agar cepat diperbaiki. Ia merasa khawatir jika bendung tidak segera diperbaiki bendung bisa jebol diterjang banjir. Kondisi ini tentu akan semakin menyulitkan petani dalam bercocok tanam.

Karena tidak ada air yang mengalir ke lahan persawahan, petani terpaksa beralih ke tanaman jagung yang tidak memerlukan banyak air. Namun, petani mengeluh karena biaya produksi mahal karena petani harus mengambil air dari sungai menggunakan pompa disel, sedangkan harga bahan bakar mahal.

Petani lainya, Faturohman mengatakan, perlu adanya pengerukan pada saluran irigasi dan bendung yang mengalami pendangkalan.

"Saluran irigasi sudah banyak yang dangkal sehingga air yang mengalir tidak lancar," kata Faturohman.

Anggota DPRD Kabupaten Brebes, Sudono mengaku prihatin dengan kondisi bendungan Petahunan dan saluran irigasi yang dinilai sudah tidak layak tersebut. Kondisi ini terjadi sejak lima tahun terakhir. Padahal bendung yang telah ada sejak berpuluh-puluh tahun tersebut mengairi lahan persawahan di beberapa desa di Kecamatan Bantarkawung seperti Sindangwangi, Jipang, Bantarwaru, Pangarasan.

Sudono mengaku upaya perbaikan telah dilakukan dengan menganggarkan perbaikan bendung pada tiga tahun anggaran, namun sampai saat ini tidak pernah mendapat realisasi.

"Yang paling parah dibendung ini kondisi di bawahnya sudah growong. Tinggal nunggu ambruknya saja. Kalau ini ambruk anggaran tidak cukup Rp50 miliar," kata Sudono saat meninjau bendung Petahunan, Selasa (3/9/2019) siang. Ia berharap agar Gubernur, Bupati, dan dinas-dinas terkait untuk memperhatikan bendung Petahunan tersebut.

Sudono menyebut, jika bendung Petahunan jebol, maka lima desa yang juga merupakan daerah lumbung pangan akan selesai riwayatnya.

Bendung Petahunan sendiri mengairi lahan persawahan sekitar 270 hektar di sisi kanan yang masuk dilayah Desa Jipang dan sebelah kiri sekitar 580 hektar yang mencakup wilayah Sindangwangi, Pagerasan, dan Bantarwaru serta Kebandungan.

Dono juga menyebut, meskipun Kabupaten Brebes akan menjadi kota industri, namun ketahanan pangan juga harus diperhatikan.

"Meskipun musim kemarau, air di Cigunung ini tetap ada namun tidak bisa dinikmati petani karena fasilitasnya yang tidak ada," ucap potilisi Partai Golkar tersebut. (Yudhi)