Portal Pantura, Brebes – Di tengah gempuran hoaks yang menyasar namanya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi justru tampil tenang. Tak ada amarah, tak ada pembelaan berapi-api. Yang ada hanya satu pesan: kritik adalah bahan bakar untuk bekerja lebih keras.
Pernyataan itu disampaikan Luthfi dalam acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Sahabat Jateng di Semarang, Sabtu (14/3/2025). Di hadapan para hadirin, mantan Kapolda Jawa Tengah ini berbicara lugas soal bagaimana ia menyikapi berbagai serangan informasi palsu yang belakangan marak beredar di media sosial dan menargetkan dirinya secara pribadi.
“Apapun yang disampaikan, saya tidak merasa disakiti, saya tidak merasa dizolimi,” kata Luthfi dengan nada tenang.
Kritik Dianggap Cambuk, Bukan Ancaman
Bagi Luthfi, menjadi pejabat publik berarti siap menerima sorotan dari berbagai arah, termasuk dari konten-konten yang tidak berdasar fakta. Alih-alih merasa tertekan, ia memilih membingkai kritik dan serangan tersebut sebagai motivasi.
Ia menegaskan bahwa setiap suara yang muncul di ruang publik digital, sekalipun negatif, tidak lantas membuatnya surut. Sebaliknya, hal itu mendorongnya untuk semakin giat menjalankan tugasnya sebagai kepala daerah.
“Saya anggap semua itu sebagai cambuk agar lebih giat bekerja,” ungkapnya.
Sikap ini mencerminkan pendekatan Luthfi yang memilih jalur dialog dan keterbukaan ketimbang konfrontasi. Dalam konteks maraknya disinformasi di ruang digital, respons semacam ini dinilai penting untuk menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.
Percaya pada Nurani Rakyat Jawa Tengah
Lebih jauh, Luthfi menyatakan keyakinannya bahwa masyarakat Jawa Tengah masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Ia menyebut konsep tepo sliro — sebuah filosofi Jawa yang mengajarkan sikap tenggang rasa dan empati terhadap sesama — sebagai fondasi yang masih hidup di kalangan warga.
Baginya, rakyat Jawa Tengah memiliki hati nurani yang jernih untuk menilai mana informasi yang benar dan mana yang sekadar fitnah. Kepercayaan itulah yang menjadi pegangan Luthfi dalam menghadapi berbagai tekanan di awal masa kepemimpinannya.
Bukan Superman, tapi Pemimpin yang Mengajak
Satu hal menarik yang disampaikan Luthfi dalam kesempatan tersebut adalah pengakuannya yang terbuka: ia bukan sosok serba bisa yang mampu menyelesaikan semua persoalan sendirian.
“Dalam membangun, tidak boleh parsial dan menang sendiri, tetapi semua komponen harus membangun secara bersama-sama,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal penting tentang gaya kepemimpinan yang ingin ia terapkan di Jawa Tengah. Luthfi memposisikan dirinya bukan sebagai pemimpin tunggal yang bekerja dalam menara gading, melainkan sebagai koordinator yang mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, swasta, komunitas, hingga warga biasa, untuk bersatu membangun provinsi ini.
Pendekatan kolaboratif ini relevan mengingat kompleksnya tantangan yang dihadapi Jawa Tengah, mulai dari pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas layanan publik yang merata di seluruh wilayah.
Memimpin di Era Disinformasi
Respons Luthfi terhadap hoaks ini menjadi cerminan bagaimana seorang pemimpin daerah harus adaptif menghadapi ekosistem informasi yang berubah drastis. Di era media sosial, kepala daerah tidak hanya dituntut cakap dalam urusan birokrasi, tetapi juga tangguh secara mental dan komunikatif dalam membangun narasi yang benar di tengah publik.
Dengan memilih bersikap terbuka dan tidak defensif, Luthfi setidaknya telah mengirimkan pesan: bahwa pembangunan Jawa Tengah tidak akan terganggu oleh hiruk-pikuk hoaks, dan bahwa pintu kolaborasi tetap terbuka lebar bagi siapa pun yang ingin turut serta membangun daerah ini.***
Tim Redaksi

