Portal Pantura, Brebes – Kasus stunting di Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes mengalami peningkatan cukup signifikan. Berdasarkan data terbaru, jumlah anak yang mengalami gangguan pertumbuhan tersebut naik dari 40 anak pada 2025 menjadi 56 anak dari total 419 anak di Desa Tonjong pada 2026.
Fakta tersebut terungkap dalam forum Rembug Stunting tingkat Desa Tonjong yang digelar pada Jumat (4/9/2026). Pertemuan ini dihadiri Camat Tonjong Lukman Hakim, Kepala Desa Tonjong Samsudin, Kasi PMD Kecamatan Tonjong Yuli Yuliawati, Koordinator PLKB Iman Sholikhin, Ketua BPD Waryono, serta para bidan desa dan kader kesehatan.
Tanggung Jawab Bersama dan Bahan Rencana Pembangunan
Camat Tonjong, Lukman Hakim, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Masalah ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat demi menyelamatkan masa depan generasi muda.
“Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah,” tegas Lukman dalam arahannya.
Kasi PMD Kecamatan Tonjong, Yuli Yuliawati, menjelaskan bahwa Rembug Stunting merupakan agenda tahunan yang sangat krusial. Forum ini berfungsi menyerap aspirasi dan data lapangan sebagai bahan penyusunan rencana pembangunan desa pada tahun mendatang. Menurutnya, pemetaan data akurat dan pemahaman masalah menjadi fondasi utama sebelum merumuskan program intervensi.
Pencegahan dari Hulu dan Perbaikan Pola Asuh
Koordinator PLKB Kecamatan Tonjong, Iman Sholikhin, menyoroti pentingnya tindakan pencegahan sejak dini. Langkah intervensi tidak hanya berfokus pada balita, tetapi juga harus menyasar kelompok remaja putri sebagai calon ibu.
“Intervensi kepada remaja putri sangat penting. Merekalah yang nantinya akan menikah dan melahirkan generasi penerus,” jelas Iman.
Di sisi lain, para kader kesehatan setempat membeberkan sejumlah faktor utama pemantik naiknya angka stunting di Desa Tonjong. Selain keterbatasan ekonomi keluarga, kurangnya pemahaman orang tua terkait pola asuh anak dan tingkat kesadaran kesehatan yang masih rendah turut menjadi pemicu.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, para kader kesehatan berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah desa, termasuk usulan penambahan alokasi anggaran khusus untuk mengoptimalkan program edukasi dan penanganan stunting di lapangan.***
Tim Redaksi

