IKLAN
News

Bahaya Taklid dalam Beragama dan Cara Keluar dari Jeratannya

Avatar photo
×

Bahaya Taklid dalam Beragama dan Cara Keluar dari Jeratannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Al Qur'an. Foto: Rubaitul Azad/pexels.
Ilustrasi Al Qur'an. Foto: Rubaitul Azad/pexels.

Portal Pantura – Imam Sanusi, ulama besar ahli akidah, menegaskan bahwa seorang mukallaf (muslim dewasa) sebaiknya tidak merasa puas dengan keyakinan yang hanya berdasarkan ikut-ikutan atau taklid.

Taklid adalah mengikuti ajaran tanpa memahami dalil atau bukti yang mendasarinya. Menurut Imam Sanusi, taklid tidak menyelamatkan seseorang di akhirat, bahkan di dunia.

IKLAN

Taklid tidak menyelamatkan di akhirat. Bahkan saya tambahkan, tidak menyelamatkan di dunia dan di akhirat.

Risiko Keimanan yang Rapuh

Orang yang beragama secara taklid rentan mengalami keraguan ketika menghadapi syubhat (hal-hal yang meragukan).

Contohnya, seorang murid yang mengikuti gurunya secara membabi buta. Ketika sang guru berbuat maksiat, murid tersebut bisa kehilangan pegangan. Ia tidak bisa membedakan antara sosok guru dengan ilmu yang diajarkan.

Padahal, yang harus diikuti adalah ilmunya, bukan sosok gurunya. Hanya Rasulullah yang boleh diikuti baik sosok maupun ajarannya secara mutlak.

Dua Cara Keluar dari Taklid

Untuk keluar dari taklid, ada dua cara yang diajarkan:

1. Aktifkan Dalil Akal (Dalil Aqli)

Gunakan akal sehat untuk memahami kebenaran. Contoh sederhana: setiap bangunan pasti ada yang membangun. Begitu juga alam semesta yang teratur, pasti ada yang mengatur.

Matahari, bulan, dan planet bergerak sesuai orbit. Jika tidak ada yang mengatur, akan terjadi tabrakan. Akal langsung mengatakan ada yang mengatur—dalam bahasa Indonesia disebut Tuhan, dalam bahasa Arab disebut Allah.

2. Perkuat dengan Dalil Naqli

Setelah akal memahami, perkuat dengan dalil dari Al-Quran dan Sunnah. Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 21, Allah berfirman: “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?”

Langkah Praktis: Mengenal Diri Sendiri

Cara paling sederhana keluar dari taklid adalah merenungkan diri sendiri.

Tanyakan pada diri: “Siapa yang menciptakan saya?”

Manusia pernah tidak ada, lalu ada. Bahkan orang tua tidak benar-benar menciptakan anak. Mereka hanya sebab, yang menciptakan adalah Allah.

Bukti kecilnya: tidak ada seorang pun yang bisa menciptakan satu helai rambut. Teknologi secanggih apa pun tidak mampu. Ini menunjukkan ada Pencipta yang Maha Kuasa.

Kesadaran Membawa Kebahagiaan

Ketika seseorang sadar bahwa Allah adalah penciptanya, ia akan merasakan ketenangan. Kesadaran ini membuat seseorang mudah memaafkan, mudah mengalah, dan ridha dengan takdir.

Disarankan untuk membaca setiap pagi: “Ya Allah, aku terima bahwa aku hamba-Mu. Engkau adalah penciptaku, Tuhanku, pengaturku.”

Orang yang ridha dengan cara ini akan menjadi pribadi yang paling bahagia.

Bahaya Percaya pada Hal Menyimpang

Taklid juga membuat orang mudah tertipu oleh hal-hal yang bertentangan dengan akidah Islam. Contohnya percaya pada dukun, kekuatan gaib, atau ajaran sesat.

Rasulullah bersabda, orang yang datang ke dukun tidak diterima salatnya selama 40 hari. Keajaiban yang ditunjukkan dukun bisa merusak keyakinan dan menjauhkan dari Allah.

Dalam akidah Ahlussunnah, api membakar bukan karena tabiatnya, tetapi karena diperintah Allah. Dalilnya ketika Allah berfirman kepada api: “Wahai api, jadilah kamu dingin dan selamatkanlah Ibrahim.”

Ilmu Bukan dari Gelar Akademis

Imam Sanusi mengingatkan, jangan tertipu oleh ritual ibadah yang banyak atau gelar akademis yang tinggi jika tidak didasari pemahaman akidah yang benar.

Yang penting adalah memahami ilmu dengan kesadaran penuh. Ulama sejati bisa lahir dari pesantren tradisional maupun pendidikan formal setara S1, S2, dan S3.

Beragama dengan Kesadaran

Keluar dari taklid berarti beragama dengan kesadaran penuh. Bukan hanya ikut-ikutan, tetapi memahami dengan akal dan dalil.

Kesadaran inilah yang akan dibawa hingga akhir hayat. Rasulullah menjanjikan: “Barangsiapa mati dalam keadaan ia mengetahui bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah, ia masuk surga.”

Dengan memahami akidah secara benar, seseorang tidak akan mudah tergoda ajaran sesat, praktik perdukunan, atau keyakinan yang menyimpang.***

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Yudhi P

Terbaru dari Yudhi P