TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Keuangan & Bisnis

Harga Bitcoin Anjlok ke $76.00ribuan, Ini Pemicunya!

×

Harga Bitcoin Anjlok ke $76.00ribuan, Ini Pemicunya!

Sebarkan artikel ini
Harga Bitcoin Anjlok ke .00ribuan, Ini Pemicunya!
Ilustrasi Bitcoin. (Foto: Pixabay/pexels)
IKLAN
⚡ RINGKASAN
Harga Bitcoin anjlok ke US$76.000 awal November 2026 akibat tekanan saham teknologi AS dan pemilu sela. Simak analisis lengkap CEO FLOQ di sini.
Ukuran teks

Portal Pantura, Jakarta – Pasar aset global dikejutkan oleh pergerakan tajam yang terjadi pada awal bulan November 2026. Harga Bitcoin (BTC) yang sebelumnya sempat perkasa di atas level US81.000 mendadak mengalami koreksi masif hingga menyentuh kisaran US76.000 pada 5 November 2026.

Pelemahan drastis ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh gelombang aksi jual besar-besaran di pasar saham Amerika Serikat. Sektor teknologi di Wall Street mengalami tekanan berat yang kemudian menjalar secara langsung ke ekosistem aset digital global.

Sentimen Pasar Saham Amerika Serikat dan Sektor Teknologi

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menegaskan bahwa penurunan tajam pada harga Bitcoin harus dibaca dalam kerangka pasar keuangan makro yang lebih luas. Koreksi masif pada saham-saham teknologi raksasa di Amerika Serikat, khususnya sektor semikonduktor, mencerminkan adanya langkah antisipasi dari para investor besar.

iklan

Langkah tersebut berupa pengurangan eksposur secara signifikan terhadap instrumen investasi yang dikategorikan memiliki risiko tinggi. Ketika bursa saham konvensional mengalami pelemahan struktural, aset kerap menjadi sasaran likuiditas pertama yang dilepas oleh pelaku pasar.

Dampak Politik Pemilu Sela Amerika Serikat

Tekanan eksternal terhadap pasar keuangan global semakin diperkuat oleh dinamika politik domestik di Amerika Serikat. Penyelenggaraan pemilu sela Amerika Serikat atau US Midterm Elections pada 3 November 2026 memunculkan spekulasi baru di kalangan investor institusional.

“Salah satu sentimen yang memengaruhi pasar adalah kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela AS, yang memunculkan kekhawatiran mengenai potensi regulasi dan pembatasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi AI, termasuk super AI. Ketidakpastian tersebut turut menekan prospek perusahaan teknologi dan memicu aksi jual di pasar saham AS,” ungkap Yudho.

Data Penurunan Pasar Global

Tekanan jual yang masif berdampak langsung pada penurunan nilai kapitalisasi pasar secara keseluruhan. Berdasarkan data statistik terkini dari platform CoinGecko, Bitcoin tercatat mengalami penurunan sekitar 5,8% dalam kurun waktu 24 jam hingga 5 November.

Aset digital andalan tersebut diperdagangkan di kisaran harga US$75.954 per koin. Tekanan serupa juga menghantam jajaran aset altcoin utama lainnya di seluruh bursa global.

Ethereum (ETH) tercatat mengalami pelemahan yang cukup dalam sebesar 7,5% ke level US2.251. Sementara itu, aset Solana (SOL) turut merosot tajam hingga 7,9% ke posisi US89,16.

Secara akumulatif, total kapitalisasi pasar global tergerus sebesar 4,6% hingga menyusut ke kisaran US$2,66 triliun. Kondisi ini memperlihatkan tingginya korelasinya dengan pasar keuangan tradisional.

Rontoknya Saham Teknologi Raksasa Wall Street

Faktor utama yang menjadi katalis negatif bagi pergerakan harga Bitcoin adalah kejatuhan bursa saham utama Amerika Serikat. Pada sesi perdagangan tanggal 5 November, indeks Nasdaq Composite terkoreksi dalam sebesar 4,7%.

Indeks S&P 500 secara bersamaan turut melemah sebesar 3,5% akibat aksi ambil untung massal. Tekanan paling parah dirasakan oleh emiten teknologi semikonduktor terkemuka dunia.

Saham perusahaan kecerdasan buatan Nvidia terkoreksi sebesar 7,5%. Di sisi lain, saham AMD mengalami kejatuhan paling parah dengan anjlok sekitar 14,6% dalam satu sesi perdagangan.

“Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen di pasar saham dapat merembet ke pasar . Ketika investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin dan aset digital lainnya berpotensi ikut mengalami tekanan jual,” jelas Yudho.

Fluktuasi Arus Dana ETF Bitcoin Spot

Dinamika pasar pada awal November 2026 juga diwarnai oleh pergerakan arus dana keluar dan masuk pada produk ETF Bitcoin spot di bursa Amerika Serikat. Produk investasi institusional ini sempat mencatatkan tren negatif yang cukup mengkhawatirkan.

Pada 3 November, produk ETF Bitcoin spot mencatatkan arus keluar bersih atau net outflow sebesar US115,6 juta. Secara akumulatif, total penarikan dana institusional tersebut bahkan telah melampaui angka US1,15 miliar dalam tiga sesi perdagangan beruntun.

Meski demikian, secercah harapan sempat muncul sehari berselang pada 4 November. ETF Bitcoin spot kembali mencatatkan arus masuk bersih atau net inflow sebesar US$74,6 juta.

“Arus dana ETF Bitcoin sempat kembali positif, hal ini belum cukup untuk memastikan pemulihan harga secara berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati perkembangan sentimen global dan stabilitas pasar dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Yudho.

Lonjakan Likuiditas Pasar Derivatif

Tekanan jual yang terjadi secara mendadak turut memicu badai likuidasi besar-besaran di pasar derivatif . Data internal dari FLOQ mencatat total likuidasi global mencapai kisaran US$1,08 miliar hanya dalam kurun waktu 24 jam.

Sebagian besar dari angka tersebut, yakni sebesar US$954,38 juta, berasal dari posisi long para trader. Besarnya angka likuidasi ini mengindikasikan bahwa banyak pelaku pasar yang berspekulasi pada kenaikan harga justru terjebak ketika Bitcoin mengalami pembalikan arah secara tajam.

Analisis Teknikal Pergerakan Harga Bitcoin

Dari sudut pandang analisis teknikal, Bitcoin saat ini masih harus bekerja keras untuk mematahkan tren koreksi jangka pendek. Berdasarkan grafik harian TradingView pada 5 November 2026, pergerakan harga BTC terpantau masih berada di dalam pola descending channel.

Indikator teknikal Bollinger Bands menunjukkan bahwa area US$80.139 berfungsi sebagai rata-rata pergerakan 20 hari sekaligus level resisten terdekat. Level ini wajib ditembus jika pasar ingin melihat pemulihan tren.

Jika harga BTC mampu menembus kembali batas psikologis US80.000, peluang penguatan lanjutan menuju kisaran US81.000 hingga US82.000 akan terbuka lebar. Penembusan konsisten pada area tersebut bahkan berpotensi membawa Bitcoin menguji level resisten kuat di US85.000.

Sebaliknya, apabila tekanan jual pasar terus berlanjut tanpa henti, area US75.000 hingga US76.000 menjadi zona support krusial. Apabila level batas bawah tersebut berhasil dijebol oleh seller, Bitcoin terancam merosot lebih dalam ke kisaran US$73.000.

Prospek Volatilitas Sepanjang November 2026

Yudhono Rawis menilai bahwa saat ini Bitcoin sedang berada di dalam fase pergerakan harga yang tidak menentu atau lazim disebut chop zone. Batas bawah di kisaran US75.000 dan batas atas di US90.000 menjadi koridor penting.

Koridor harga tersebut harus diamati secara seksama sebelum tren makro berikutnya terbentuk dengan jelas. Pelaku pasar diminta untuk bersiap menghadapi fluktuasi tinggi.

“Pergerakan Bitcoin sepanjang November 2026 diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Kondisi saham teknologi AS, perkembangan kebijakan pasca pemilu, arus dana ETF, serta sentimen investor akan menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi arah harga BTC,” tuturnya.

Mengingat tingginya tingkat ketidakpastian global, para investor diimbau untuk selalu waspada dan menerapkan manajemen risiko yang ketat. Karakteristik aset kripto yang sangat volatil menuntut kedisiplinan tinggi dalam mengambil setiap keputusan transaksi finansial.***

Sumber:Vritime

Setyo

Terbaru dari Setyo