Portal Pantura – Publik dihebohkan dengan kasus seorang tukang becak di Yogyakarta yang tercatat masuk dalam desil 9 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.
Penjelasan BPS Terkait Data Belum Mutakhir
Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui secara terbuka bahwa data dalam sistem DTSEN saat ini belum sepenuhnya mutakhir dan akurat.
Kondisi di lapangan tersebut menjadi pemicu utama munculnya kasus warga miskin yang justru tercatat masuk dalam desil tinggi.
Akar Masalah Ada pada Pembaruan Data
Menurut pihak BPS, akar persoalan ini sebenarnya bukan terletak pada metode pembagian desil yang selama ini digunakan.
Kendala utama yang dihadapi adalah keterlambatan pembaruan data masyarakat miskin yang dinamis setiap tahunnya.
Pembaruan data secara berkala menjadi agenda krusial agar sistem DTSEN mampu menggambarkan kondisi riil warga secara tepat.
Pemerintah kini gencar membuka peluang kolaborasi dan integrasi data dengan berbagai kementerian serta lembaga terkait.
Memahami Sistem Pembagian Desil DTSEN
Desil merupakan sistem pengelompokan keluarga yang disusun secara sistematis berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi.
Dalam kerangka DTSEN, seluruh rumah tangga di Indonesia dibagi secara merata ke dalam sepuluh kelompok kesejahteraan berbeda.
Kelompok desil 1 merepresentasikan lapisan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah atau kategori miskin ekstrem.

