Portal Pantura – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia merilis pembaruan data harga komoditas pangan terbaru pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Berdasarkan pencatatan data harian pukul 11.00 WIB, sebanyak 12 komoditas pangan mengalami penurunan harga, sementara 9 komoditas lainnya tercatat naik.
Pergerakan Harga Beras dan Minyak Goreng
Kenaikan harga tertinggi secara persentase terjadi pada beras kualitas bawah II yang melonjak sebesar 4,76 persen atau naik Rp700 menjadi Rp15.400 per kilogram.
Sementara itu, minyak goreng curah mencatatkan kenaikan nominal tertinggi sebesar Rp950 atau 4,65 persen, sehingga harganya kini menyentuh Rp21.350 per kilogram.
Tren kenaikan ini juga diikuti oleh kelompok beras lainnya, seperti beras kualitas bawah I yang naik menjadi Rp15.450 serta beras medium I menjadi Rp17.100 per kilogram.
Adapun minyak goreng kemasan bermerek 1 dan 2 melaju naik masing-masing berada di angka Rp24.750 dan Rp24.000 per kilogram.
Cabai Rawit Hijau Anjlok Paling Dalam
Di sisi lain, penurunan harga paling tajam terjadi pada komoditas cabai rawit hijau yang merosot hingga 14,15 persen atau berkurang Rp10.850.
Saat ini, harga rata-rata nasional untuk cabai rawit hijau berada di kisaran Rp65.850 per kilogram di pasar-pasar tradisional.
Cabai rawit merah dan cabai merah besar juga terpantau melandai, masing-masing turun menjadi Rp97.600 dan Rp72.550 per kilogram.
Untuk komoditas daging sapi kualitas 1 serta daging ayam ras segar, harganya turut melandai masing-masing menjadi Rp150.050 dan Rp40.900 per kilogram.
Penyebab Fluktuasi Harga Komoditas
Menteri Perdagangan Budi Santoso sempat menjelaskan bahwa fluktuasi harga komoditas seperti cabai sangat bergantung pada faktor produksi musiman.
“Kondisi cuaca saat ini menyebabkan volume produksi di tingkat petani menurun signifikan,” ungkap Menteri Perdagangan Budi Santoso terkait dinamika komoditas cabai.
Guna mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian Perdagangan mengklaim terus menjalin komunikasi intensif dengan para petani cabai di berbagai daerah.
Langkah kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong optimalisasi hasil produksi pertanian di tengah tantangan fenomena cuaca yang terus berubah.
Ancaman Cuaca Ekstrem dan Proyeksi Global
Tantangan pasokan pangan diprediksi masih membayangi akibat fenomena cuaca ekstrem Super El Nino yang mulai berkembang sejak awal tahun 2026.
Kombinasi cuaca ekstrem dan lonjakan harga energi akibat konflik kawasan diperkirakan akan makin menekan rantai pasok komoditas global.
Laporan analisis Goldman Sachs menyebutkan bahwa fenomena Super El Nino berkekuatan tinggi berpotensi mendongkrak harga komoditas pangan hingga 15,8 persen.
Namun, dampak kenaikan harga tersebut diproyeksikan baru akan terasa signifikan pada paruh kedua tahun 2028 mendatang.
Peringatan Dampak Inflasi dari IMF
International Monetary Fund (IMF) dalam laporan terbarunya memproyeksikan harga pangan global akan naik sekitar 5 persen pada tahun 2026.
IMF menilai bahwa kenaikan harga pangan berisiko tergerusnya daya beli masyarakat, khususnya pada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah.***
Catatan Redaksi
Harga sewaktu-waktu dapat berubah dan bervariasi di setiap daerah.

