Portal Pantura – Memasuki minggu kedua di bulan September 2026, banyak masyarakat yang masih antusias melihat dan mencocokkan penanggalan Jawa. Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, kalender tradisional ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan panduan kultural yang kaya akan makna.
Pada hari Kamis, 10 September 2026, penanggalan Masehi tersebut bertepatan dengan tanggal Jawa 27 Mulud 1960 Ja. Dalam sistem kalender warisan leluhur ini, hari tersebut memiliki rincian weton, pasaran, hingga wuku yang menarik untuk disimak.
Detail Weton Kamis Kliwon
Berdasarkan perhitungan penanggalan tradisional, tanggal 10 September 2026 jatuh pada pasaran Kliwon. Dengan demikian, weton untuk hari tersebut adalah Kamis Kliwon.
Bagi masyarakat yang kerap menggunakan perhitungan neptu atau nilai hari, Kamis Kliwon memiliki jumlah angka yang terbilang cukup besar. Hari Kamis memiliki nilai 8, sedangkan pasaran Kliwon juga memiliki nilai 8.
Jika dijumlahkan, weton Kamis Kliwon menghasilkan neptu sebesar 16. Dalam tradisi masyarakat Jawa, besaran angka neptu ini sering kali dijadikan acuan untuk berbagai keperluan penting.
Biasanya, perhitungan neptu digunakan mulai dari menentukan hari baik untuk menggelar hajatan pernikahan, pindah rumah, hingga membaca potensi karakter atau watak seseorang.
Penanggalan Jawa dan Wuku Manahil
Selain weton dan pasaran, elemen penentu yang tidak kalah penting dalam sistem kalender Jawa adalah wuku. Pada hari Kamis tanggal 10 September 2026 tersebut, wuku yang sedang berjalan adalah Wuku Manahil.
Sementara itu, untuk penanggalan bulannya berada pada 27 Mulud 1960 Ja. Meski begitu, beberapa literatur atau sumber acuan lain kadang mencatatnya bertepatan dengan 28 Mulud atau 10 Bakdamulud.
Perbedaan kecil seperti ini merupakan hal yang sangat lumrah. Hal ini terjadi karena sistem kalender Jawa memadukan pergerakan siklus bulan (komariah) yang disesuaikan dengan tradisi lokal keraton.
Merawat Warisan Budaya Nusantara
Eksistensi kalender Jawa di era modern dan serba digital seperti sekarang membuktikan bahwa tradisi leluhur tidak mudah lekang oleh waktu. Mengetahui detail weton seperti Kamis Kliwon bukan berarti mengajak masyarakat untuk sekadar percaya pada hal-hal klenik.
Lebih dari itu, merawat pengetahuan tentang weton, neptu, dan wuku adalah bagian nyata dari upaya pelestarian warisan budaya. Sistem penanggalan yang unik ini mengajarkan manusia modern untuk tetap selaras dengan alam dan menghargai nilai-nilai kearifan lokal yang telah dijaga secara turun-temurun.***
Tim Redaksi
