IKLAN
Gaya Hidup

Weton Rabu Legi 8 Juli 2026: Neptu 12 dan Wuku Mandhasiya

Avatar photo
×

Weton Rabu Legi 8 Juli 2026: Neptu 12 dan Wuku Mandhasiya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kalender Jawa. (Foto: Generate ChatGPT)
Ilustrasi kalender Jawa. (Foto: Generate ChatGPT)
⚡ RINGKASAN
Weton Rabu Legi 8 Juli 2026: neptu 12, Wuku Mandhasiya. Simak makna, cara hitung, dan sejarah kalender Jawa Sultan Agung.

Portal Pantura, Brebes – Hari ini, Rabu 8 Juli 2026, bertepatan dengan penanggalan Jawa 22 Suro 1960 dan Hijriah 23 Muharram 1448 H. Bagi masyarakat yang masih mengacu pada primbon, hari ini masuk Rabu Legi dengan neptu 12.

Penanggalan ini penting bagi sebagian masyarakat Jawa untuk menentukan hari baik, mulai dari acara pernikahan hingga kegiatan penting lainnya.

Neptu Rabu Legi Bernilai 12

IKLAN

Neptu dihitung dari penjumlahan nilai hari dan pasaran. Hari Rabu bernilai 7, sedangkan pasaran Legi bernilai 5. Jika dijumlahkan, hasilnya 12 — termasuk kategori neptu sedang dalam perhitungan primbon Jawa.

Cara Menghitung Neptu

Rumus dasar menghitung neptu adalah menjumlahkan nilai siklus saptawara (tujuh hari) dengan nilai siklus pancawara (lima hari pasaran). Untuk hari ini, kombinasi Rabu (7) dan Legi (5) menghasilkan angka 12.

Wuku Mandhasiya Menyertai Hari Ini

Selain neptu, hari ini juga berada di bawah wuku Mandhasiya. Siklus wuku berganti setiap tujuh hari dan menjadi salah satu acuan primbon dalam menilai baik-buruknya suatu hari.

Rincian Penanggalan Hari Ini

  • Tanggal Masehi: 8 Juli 2026
  • Tanggal Jawa: 22 Suro 1960
  • Tanggal Hijriah: 23 Muharram 1448 H
  • Hari (Saptawara): Rabu (Budha)
  • Pasaran (Pancawara): Legi
  • Neptu: 12
  • Wuku: Mandhasiya

Dua Siklus yang Membentuk

menggabungkan dua siklus hari yang berjalan bersamaan. Siklus pancawara terdiri dari lima hari pasaran: Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.

Sementara itu, siklus saptawara memakai nama-nama kuno: Radite (Minggu), Soma (Senin), Hanggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), dan Tumpak (Sabtu).

Jejak Sejarah dari Sultan Agung

modern lahir dari keputusan besar Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Kesultanan Mataram. Sultan Agung menggabungkan kalender Saka yang berbasis matahari dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan, agar perayaan adat keraton bisa selaras dengan hari besar Islam.

Penanggalan baru ini resmi berlaku sejak Jumat Legi, 1 Suro tahun Alip 1555 Jawa, yang bertepatan dengan 1 Muharram 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi. Sejak saat itu, angka tahun Saka tetap diteruskan, namun sistem hitungannya beralih mengikuti peredaran bulan seperti kalender Hijriah.

Pergantian Hari Dimulai Saat Magrib

Berbeda dengan kalender Masehi yang berganti pukul 00.00, hari dalam dimulai saat matahari terbenam, sekitar pukul 18.01 WIB. Bulan Suro tahun ini berjumlah 30 hari, dimulai Rabu Kliwon 17 Juni 2026 dan berakhir Kamis 16 Juli 2026. Setelah itu, masyarakat memasuki bulan Sapar yang berlangsung 29 hari, dari Jumat 17 Juli hingga Jumat 14 Agustus 2026.***

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura