IKLAN
Inside

Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ini Faktor Pemicunya

Avatar photo
×

Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ini Faktor Pemicunya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi uang. (Mufid Majnun)
Ilustrasi uang. (Mufid Majnun)

Portal Pantura, Jakarta – Bayangkan harga dolar AS melonjak ke Rp20.000. Bukan sekadar skenario menakutkan — angka itu kini disebut realistis berdasarkan data historis pelemahan selama satu dekade terakhir.

Sejumlah analis memperingatkan berpotensi terdepresiasi hingga 20 persen dari posisi saat ini yang berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Jika itu terjadi, kurs bisa menembus Rp20.400 per dolar AS dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan.

Bukan Spekulasi, Ini Sudah Pernah Terjadi

IKLAN

Pelemahan tajam bukan sekadar teori. Sejarah mencatatnya berulang kali.

September 2014 – September 2015: ambruk 20 persen. Kurs bergerak dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS. Cadangan devisa terkuras US$9,44 miliar dalam periode yang sama.

Januari – Oktober 2018: Tekanan berlanjut. melemah 13,5 persen dari Rp13.388 ke Rp15.202 per dolar AS. Cadangan devisa menyusut US$17,13 miliar.

Awal pandemi COVID-19, 2020: Ini yang paling dramatis. Hanya dalam satu bulan, anjlok hampir 20 persen — dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS. Cadangan devisa turun US$10,7 miliar.

Tiga episode ini menunjukkan satu pola: ketika guncangan eksternal datang, bisa jatuh cepat dan dalam.

Tiga Pemicu Utama Saat Ini

Setidaknya ada tiga faktor yang kini menekan secara bersamaan.

Pertama, konflik geopolitik di Iran. Ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global. Indonesia, sebagai negara importir minyak, langsung terdampak ketika harga energi naik.

Kedua, kenaikan harga minyak. Lonjakan harga komoditas energi memperbesar defisit neraca berjalan Indonesia. Ini menekan permintaan dolar dan memperlemah .

Ketiga, pelarian modal. Ketidakpastian global mendorong investor keluar dari aset berisiko di negara berkembang. Dana mengalir ke aset safe haven seperti dolar AS, obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan emas.

Cadangan Devisa Besar, Tapi Bukan Jaminan

Indonesia memang mencatat cadangan devisa dalam jumlah besar. Namun, angka besar itu tidak otomatis berarti rupiah aman.

Sebagian besar cadangan devisa merupakan akumulasi dari utang luar negeri. Fungsinya pun bukan untuk kegiatan produktif, melainkan untuk intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Yang sesungguhnya menentukan nasib rupiah adalah satu hal: apakah aliran dana eksternal terus masuk atau berhenti. Dengan kata lain, stabilitas rupiah bergantung pada kemampuan Indonesia untuk terus mengakses pembiayaan dari luar negeri.

Kondisi ini membuat rupiah tetap rentan meski cadangan devisa tampak solid di atas kertas.

Risiko Krisis Jika Respons Terlambat

Pengalaman krisis moneter 1997 menjadi pengingat keras. Ketika rupiah melemah 25–30 persen dalam waktu singkat tanpa respons kebijakan yang tepat dan cepat, krisis valuta yang lebih luas pun tak terhindarkan.

Situasi serupa bisa berulang. Sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia dinilai masih rapuh dan sangat sensitif terhadap guncangan dari luar.

Narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat semata karena cadangan devisa besar, dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang sesungguhnya.

Apa yang Perlu Diwaspadai?

Dalam skenario geopolitik yang makin ekstrem, depresiasi rupiah bahkan bisa melampaui 20 persen — dan terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Jika posisi rupiah saat ini Rp17.000, pelemahan 20 persen membawa kurs ke Rp20.400 per dolar AS.

Bagi masyarakat, ini berarti harga barang impor naik, tagihan utang dalam dolar membengkak, dan daya beli tergerus.

Bank Indonesia dan pemerintah dituntut bergerak cepat — sebelum tekanan berubah menjadi krisis yang lebih dalam.***

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Yudhi P

Terbaru dari Yudhi P