IKLAN
News

Antara Mitos dan Makna Sebenarnya

Avatar photo
×

Antara Mitos dan Makna Sebenarnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi masjid. Foto: Pixabay/pexels.
Ilustrasi masjid. Foto: Pixabay/pexels.

Portal Pantura – Bulan Safar kembali menyapa umat Islam. Dalam penanggalan Hijriah, Safar menempati urutan kedua setelah Muharram. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 versi Kementerian Agama, 1 Safar 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 26 Juli 2025. Sedangkan akhir bulan ini, 30 Safar 1447 H, bertepatan dengan Minggu, 24 Agustus 2025.

Namun, penting dipahami bahwa dalam sistem kalender Islam, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam, bukan tengah malam seperti dalam kalender Masehi. Artinya, malam 1 Safar sudah dimulai sejak Jumat petang, 25 Juli 2025.

Apa Itu Bulan Safar?

IKLAN

Safar berasal dari bahasa Arab yang berarti “kosong” atau “sepi”. Nama ini muncul karena dahulu, masyarakat Arab di masa jahiliyah sering meninggalkan rumah mereka untuk berdagang atau berperang selama bulan ini. Rumah-rumah pun tampak kosong, sehingga bulan ini disebut Safar.

Dalam buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan, disebutkan bahwa sebagian ulama menilai bulan Safar tak memiliki keistimewaan khusus, namun tetap menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat Islam dalam satu tahun.

Antara Keyakinan dan Mitos

Di masyarakat, tak jarang bulan Safar dikaitkan dengan hal-hal mistis atau dianggap sebagai bulan sial. Pandangan ini tumbuh dari tradisi dan kepercayaan yang sudah turun-temurun, bukan dari ajaran Islam.

Padahal, Rasulullah SAW secara tegas membantah anggapan tersebut. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:

“Tidak ada penyakit menular (yang menular tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu), tidak ada hamah (kesialan karena burung), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa anggapan tentang bulan sial, termasuk Safar, adalah tidak berdasar. Rasulullah ingin menghapus budaya jahiliyah yang menanamkan rasa takut berlebihan pada waktu tertentu.

Ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali juga menegaskan, yang dimaksud “laa shafara” dalam hadits adalah larangan mempercayai bahwa Safar membawa pengaruh buruk.

Semua Bulan Sama di Hadapan Allah

Dalam Islam, semua bulan adalah ciptaan Allah dan tidak ada yang dianggap lebih buruk atau lebih membawa sial dari yang lain. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah ayat 36:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus…”

Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Allah memerintahkan umat Islam untuk menghormati bulan-bulan ini dengan tidak berbuat zalim. Tapi tidak ada keterangan yang menyebut Safar sebagai bulan buruk atau penuh musibah.

Momentum untuk Introspeksi

Daripada memandang Safar sebagai bulan sial, sebaiknya jadikan momen ini sebagai waktu untuk memperkuat keimanan. Lakukan ibadah rutin, seperti salat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Jika ada keinginan untuk berdoa atau meminta perlindungan dari hal buruk, Islam menganjurkan untuk berdoa kapan saja, di bulan apapun.

Dengan begitu, kita tidak terjebak pada mitos. Sebaliknya, kita bisa menjadikan setiap bulan sebagai ladang kebaikan dan refleksi diri.

Bulan Safar hanyalah bagian dari perjalanan waktu. Tidak membawa sial, tidak pula mendatangkan malapetaka. Semua kembali pada cara kita menjalani hidup dan sejauh mana kita mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Daripada terjebak dalam kepercayaan yang keliru, lebih baik jadikan Safar sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri dan meningkatkan amal ibadah. Sebab, yang menentukan takdir bukan bulan, tapi Sang Pencipta waktu.***

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Yudhi P

Terbaru dari Yudhi P