Portal Pantura – Bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera memicu gelombang nostalgia di media sosial. Netizen ramai mengenang tiga tokoh yang pernah menjadi pilar informasi dan penanganan bencana nasional.
Mereka adalah almarhum Doni Monardo (mantan Kepala BNPB), almarhum Sutopo Purwo Nugroho (mantan Jubir BNPB), dan almarhum Achmad Yurianto (mantan Jubir Satgas COVID-19).
Kerinduan di Tengah Krisis Informasi
Bencana yang melanda Sumatera tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan korban jiwa. Situasi ini juga memantik diskusi publik tentang kualitas komunikasi bencana pemerintah saat ini.
Di tengah ketidakpastian informasi, masyarakat kembali merindukan sosok-sosok yang dulu menjadi rujukan dalam penanganan krisis. Ketiga tokoh tersebut dikenal mampu menyampaikan informasi dengan jelas, cepat, dan menenangkan.
Doni Monardo: Pemimpin Responsif di Garda Depan
Doni Monardo memimpin BNPB periode 2019-2021. Masa jabatannya penuh tantangan, termasuk menghadapi pandemi COVID-19.
Kepemimpinannya ditandai dengan respons cepat dan kehadiran langsung di lokasi bencana. Doni tidak hanya duduk di belakang meja. Ia turun langsung menemui korban dan memastikan bantuan tiba tepat waktu.
Selain tanggap darurat, Doni juga vokal dalam kampanye mitigasi jangka panjang. Ia gencar menyuarakan pelestarian lingkungan sebagai upaya pencegahan bencana.
Doni wafat pada 2023 setelah dirawat intensif selama dua bulan. Kepergiannya meninggalkan kekosongan dalam kepemimpinan kebencanaan Indonesia.
Sutopo Purwo Nugroho: Wajah Komunikasi Bencana Indonesia
Sutopo Purwo Nugroho adalah juru bicara BNPB yang paling dikenal publik. Namanya identik dengan informasi bencana yang akurat dan tepercaya.
Melalui media sosial dan konferensi pers, Sutopo rutin membagikan data dan perkembangan terkini. Ia berbicara dengan gaya yang ilmiah namun mudah dipahami masyarakat umum.
Yang membuat Sutopo istimewa adalah empatinya. Ia tidak hanya menyajikan angka dan data. Sutopo mampu menyampaikan informasi dengan cara yang menenangkan dan manusiawi.
Kehadirannya menjadi benteng melawan hoaks dan informasi menyesatkan. Masyarakat percaya padanya karena konsistensi dan kejujurannya.
Sutopo berjuang melawan kanker paru-paru stadium lanjut sambil terus bekerja. Ia wafat pada 2019, meninggalkan warisan sebagai komunikator bencana terbaik Indonesia.
Achmad Yurianto: Juru Bicara di Tengah Pandemi
Achmad Yurianto, atau akrab disapa Yuri, menjadi wajah komunikasi pemerintah saat pandemi COVID-19. Sebagai juru bicara Satgas COVID-19, ia tampil hampir setiap hari memberikan update kasus.
Di tengah kepanikan dan ketidakpastian pandemi, Yuri menjadi sumber informasi yang konsisten. Konferensi persnya yang rutin membantu masyarakat memahami perkembangan situasi.
Gaya komunikasinya yang tegas namun tenang memberikan rasa aman di tengah kekacauan. Ia mampu menjelaskan protokol kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Yuri wafat pada 2022 akibat kanker usus. Kepergiannya mengakhiri era komunikasi krisis yang dinilai publik cukup efektif.
Viral di Media Sosial
Kerinduan terhadap ketiga tokoh ini menjadi trending di berbagai platform media sosial. Warganet membandingkan gaya komunikasi mereka dengan kondisi saat ini.
Banyak yang menilai komunikasi bencana saat ini kurang informatif dan lambat. Publik merindukan kepemimpinan yang responsif dan komunikasi yang menenangkan.
Ketiga tokoh tersebut menjadi simbol standar kualitas yang diharapkan masyarakat. Mereka bukan sekadar pejabat, tetapi figur yang dipercaya dan dihormati.
Harapan untuk Masa Depan
Fenomena ini menjadi refleksi bagi pemerintah. Masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar data dan angka saat bencana terjadi.
Mereka butuh kepemimpinan yang hadir, komunikasi yang jelas, dan empati yang tulus. Ketiga hal ini yang membuat Doni, Sutopo, dan Yuri dikenang hingga kini.
Di tengah bencana, kehadiran pemimpin dengan kerja nyata dan komunikasi yang menyejukkan adalah kebutuhan mendasar. Inilah warisan ketiga tokoh yang kini dirindukan publik Indonesia.***
Tim Redaksi
