Portal Pantura, Brebes – Suasana sore di Lapangan Kali Belik, Desa Negarayu, Kecamatan Tonjong, terasa berbeda dari biasanya pada Rabu (25/2/2026). Bupati Brebes Hj Paramitha Widya Kusuma SE MM hadir langsung di tengah warga untuk mengisi waktu ngabuburit — tradisi menunggu waktu berbuka puasa — sekaligus menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Tanpa protokol kaku, Paramitha duduk bersama warga yang sebagian besar adalah kalangan lanjut usia (lansia). Kesempatan langka itu dimanfaatkan warga untuk menyuarakan berbagai persoalan yang selama ini mengganjal, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga infrastruktur desa yang dinilai belum memadai.
Satu keluhan yang paling banyak disuarakan adalah kondisi jalan desa yang rusak. Warga menilai kerusakan jalan tersebut menghambat mobilitas mereka, terutama para lansia yang mengandalkan akses jalan untuk kegiatan harian. Paramitha terlihat menyimak dengan serius setiap masukan, mencatatnya, dan berkomitmen menindaklanjuti sesuai skala prioritas pembangunan daerah.
“Momentum Ramadan ini bukan hanya tentang ibadah, tapi juga mempererat silaturahmi dan mendengar langsung suara masyarakat,” kata Paramitha di hadapan warga yang memadati lapangan tersebut.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam kesempatan yang sama, Paramitha menyerahkan 200 paket sembako kepada warga sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah di bulan Ramadan. Bantuan tersebut disambut antusias, khususnya oleh para lansia yang merasa diperhatikan di tengah keterbatasan mereka.
Salah satu warga, Rohmah, mengungkapkan rasa syukurnya bisa bertemu langsung dengan orang nomor satu di Kabupaten Brebes itu. Bagi warga desa, kunjungan semacam ini bukan hal yang sering terjadi.
“Kami senang sekali bisa ditemui langsung. Terima kasih untuk paket sembakonya, dan semoga jalan di desa kami segera diperbaiki,” ujar Rohmah dengan penuh harap.
Kegiatan semacam ini mencerminkan pendekatan pemerintahan yang lebih partisipatif — turun ke lapangan untuk mendengar, bukan sekadar menunggu laporan dari meja kerja. Di wilayah pedesaan seperti Negarayu, akses terhadap pemimpin daerah kerap menjadi hambatan tersendiri bagi warga dalam menyampaikan aspirasi. Kehadiran Bupati secara langsung menjadi jembatan yang memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat akar rumput.
Bulan Ramadan, selain dikenal sebagai bulan ibadah, juga kerap dijadikan momentum oleh pejabat daerah untuk mempererat hubungan dengan konstituen. Namun keberhasilan pendekatan ini tidak cukup diukur dari kehadiran semata — melainkan dari tindak lanjut nyata atas keluhan yang telah ditampung, termasuk perbaikan jalan yang sudah lama dinantikan warga Desa Negarayu.***

