Portal Pantura, Brebes – Semarak Hari Santri Nasional (HSN) 2025 mulai terasa di Desa Kalijurang. Pemerintah Desa bersama Ranting Nahdlatul Ulama dan Badan Otonom NU setempat menggelar kompetisi hardroh dan solo vokal, Minggu (19/10/2025).
Gelaran lomba berlangsung di gedung NU Kalijurang. Acara ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan peringatan HSN tahun ini.
Upacara Puncak di Lapangan Pejanten

Kepala Desa Kalijurang, Edi Riyanto SH, menjelaskan lomba merupakan bagian dari serangkaian agenda HSN 2025.
“Puncak acara akan kami selenggarakan pada Rabu, 22 Oktober 2025,” kata Edi.
Upacara peringatan HSN akan digelar di Lapangan Pejanten. Acara tersebut menjadi puncak dari berbagai kegiatan yang telah dipersiapkan.
Tema Besar HSN 2025
Secara nasional, peringatan Hari Santri tahun ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”. Tema tersebut bukan sekadar slogan seremonial.
Pemerintah ingin menegaskan peran strategis santri sebagai agen perdamaian. Mereka juga ditempatkan sebagai penjaga moral bangsa dan penggerak peradaban dunia.
Tema ini merefleksikan perubahan paradigma. Santri tidak lagi hanya penjaga tradisi. Mereka kini aktor aktif membangun masa depan Indonesia yang inklusif dan berperadaban.
Jejak Sejarah 22 Oktober
Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober. Tanggal ini dipilih bukan tanpa alasan.
Tanggal tersebut bertepatan dengan Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menjadi tonggak perlawanan santri melawan penjajah.
Sejarah mencatat peran besar kiai dan santri dalam merebut kemerdekaan. Mereka berjuang bersama elemen bangsa lainnya mengusir kolonialisme.
Beberapa tokoh santri yang berperan besar antara lain KH Hasyim Asy’ari dari NU, KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, dan A Hassan dari Persis. Ada juga Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta Ahmad Soorhati dari Al Irsyad.
Banyak prajurit Pembela Tanah Air (Peta) juga berasal dari kalangan pesantren.
Penetapan Hari Santri Nasional
Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada 2015. Keputusan ini mengakui kontribusi historis santri bagi NKRI.
Sebelumnya, Jokowi sempat berpendapat tanggal 1 Muharram lebih tepat. Namun akhirnya dipilih 22 Oktober mengikuti momentum Resolusi Jihad.
Sejak 2015, peringatan HSN dilaksanakan setiap tahun hingga sekarang.
Makna dan Filosofi Hari Santri
HSN memiliki arti mendalam bagi santri dan bangsa. Hari ini menjadi momentum refleksi mengingat perjuangan para pendahulu.
Ingatan sejarah memberikan bekal bagi santri modern. Mereka didorong terus berbenah dan meningkatkan kualitas diri.
Dalam upacara peringatan di halaman Madrasah As-Salafiyah, pembina upacara menghimbau para santri. HSN harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Mari jadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum berbenah,” ujar pembina upacara.
Santri saat ini menghadapi tantangan berbeda. Perubahan global terjadi sangat masif. Mereka harus siap menjawab berbagai tantangan tersebut.
Bukan Sekadar Seremonial
HSN bukan sekadar perayaan euforia atau upacara belaka. Ini adalah waktu untuk introspeksi dan evaluasi.
Refleksi tersebut menjadi dasar untuk terus meningkatkan kapasitas. Tujuannya demi kemajuan Indonesia.
Hari Santri mengingatkan pentingnya peran pesantren dari masa ke masa. Dari zaman penjajahan hingga era modern.
Dengan semangat “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, santri diharapkan menjadi garda terdepan. Mereka menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus berkontribusi pada peradaban global.
Peringatan HSN 2025 di Desa Kalijurang menjadi bukti nyata. Semangat santri terus hidup di tengah masyarakat. Lomba hardroh dan solo vokal bukan hanya kompetisi. Ini adalah wujud regenerasi nilai-nilai perjuangan yang tetap relevan.***
Tim Redaksi
