IKLAN

Festival Gunung Slamet 2025 Resmi Dibuka, Targetkan 50 Ribu Wisatawan

Avatar photo
×

Festival Gunung Slamet 2025 Resmi Dibuka, Targetkan 50 Ribu Wisatawan

Sebarkan artikel ini
Festival Gunung Slamet 2025 resmi dimulai. Prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah oleh peserta dari 22 negara jadi pembuka Festival Gunung Slamet ke-8 di Desa Serang, Jumat . Foto: Portal Pantura/Imam Muzaky.
Festival Gunung Slamet 2025 resmi dimulai. Prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah oleh peserta dari 22 negara jadi pembuka Festival Gunung Slamet ke-8 di Desa Serang, Jumat . Foto: Portal Pantura/Imam Muzaky.
⚡ RINGKASAN
Festival Gunung Slamet 2025 di Purbalingga resmi dibuka. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini menargetkan 50.000 pengunjung dan menghadirkan berbagai atraksi budaya, lomba internasional, serta pemecahan rekor MURI. Festival ini juga mendorong pertumbuhan UMKM dan memperkuat identitas budaya lokal.

Portal Pantura, Purbalingga – Festival Gunung Slamet (FGS) ke-8 resmi dimulai di kawasan wisata D’Las, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Jumat 4 Juli 2025. Pemerintah Kabupaten Purbalingga menargetkan 50.000 kunjungan selama tiga hari pelaksanaan festival.

Masuk Kalender Nasional, FGS Tampilkan Inovasi Acara

FGS 2025 kembali hadir sebagai salah satu agenda unggulan pariwisata Kabupaten Purbalingga. Tahun ini menjadi tahun kedua FGS masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

IKLAN

Kepala Dinporapar Purbalingga, R Budi Setiawan, menyebut FGS tahun ini membawa banyak pembaruan. Berbagai kegiatan kreatif dirancang untuk menarik minat wisatawan domestik hingga mancanegara.

“FGS tahun ini menampilkan berbagai inovasi acara. Ini bukan hanya festival lokal, tapi momentum untuk membawa Purbalingga ke panggung nasional,” ujarnya.

Salah satu kegiatan utama yang menarik perhatian adalah prosesi pengambilan air sakral dari mata air Tuk Sikopyah, yang diikuti oleh peserta dari 22 negara dengan mengenakan pakaian adat masing-masing.

Selain itu, FGS juga menggelar lomba Trail Run, serta pemecahan rekor MURI dengan sajian 8.888 porsi Nasi 3G—akronim dari Gundil, Gandul, dan Gereh, makanan khas daerah setempat.

Dorong Ekonomi Lokal, UMKM Meraup Untung

Festival yang berlangsung selama tiga hari, dari 4 hingga 6 Juli 2025, diyakini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Tahun lalu, FGS berhasil menyedot 46.000 pengunjung dan mencatat transaksi ekonomi senilai Rp2,2 miliar.

Tahun ini, target ditingkatkan menjadi 50.000 kunjungan. Pemerintah optimistis target tersebut tercapai berkat promosi yang lebih masif dan skala acara yang lebih besar.

“Dampak ekonominya akan lebih besar, apalagi sektor UMKM turut aktif berpartisipasi,” kata Budi.

Kepala Desa Serang, Sugito, mengamini hal tersebut. Ia menyebut omzet pelaku UMKM meningkat signifikan selama festival berlangsung.

“Kalau biasanya hanya dapat Rp1,5 juta di akhir pekan, saat FGS bisa tembus Rp3,5 juta per hari,” ungkapnya.

Komitmen Pemerintah: FGS Jadi Agenda Tahunan Unggulan

Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, menyatakan komitmen pemerintah dalam mendukung keberlanjutan FGS.

“Kami akan terus mendukung hingga FGS ke-9, ke-10, dan seterusnya. Serang akan kita jadikan destinasi unggulan seperti Batu di Malang,” ucapnya saat pembukaan.

Dimas juga menekankan bahwa FGS bukan hanya ajang pariwisata, tetapi juga ruang pelestarian budaya lokal. Festival ini dianggap telah menjadi identitas budaya Purbalingga yang harus dijaga.

Pertunjukan Budaya Memukau Pengunjung

Acara pembukaan FGS 2025 dimeriahkan dengan pertunjukan seni dari berbagai desa wisata. Tarian Sikopyah dari Desa Serang, Baladewa dari Gunung Wuled, hingga Gejog Lesung dari Desa Onje, tampil memukau.

Kehadiran seni tradisional ini memberikan warna tersendiri bagi pengunjung yang datang, menjadikan FGS bukan hanya sekadar festival, melainkan panggung budaya yang mengedukasi sekaligus menghibur.

Kolaborasi untuk Pariwisata Berkelanjutan

FGS ke-8 merupakan contoh nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku wisata. Dengan dukungan semua pihak, festival ini menjadi ruang pemberdayaan ekonomi kreatif serta ajang promosi wisata yang berkelanjutan.

Purbalingga membuktikan bahwa kekuatan lokal bisa menjangkau pasar nasional dan internasional melalui pendekatan kreatif dan inklusif.***

Tim Redaksi

Imam Muzaki
Reporter Imam Muzaki
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Imam Muzaki

Terbaru dari Imam Muzaki