Portal Pantura – Setiap kali bulan Safar datang, tak sedikit masyarakat yang merasa waswas. Konon katanya, bulan ini identik dengan bala, musibah, dan kesialan. Terutama pada hari Rabu terakhir, yang dikenal sebagai Rebo Wekasan. Tapi, benarkah ajaran Islam menganggap bulan ini penuh bahaya?
Mari kita kupas tuntas berdasarkan dalil dan sumber terpercaya.
Asal-Usul Anggapan Bulan Kesialan
Keyakinan bahwa Safar adalah bulan sial bukanlah hal baru. Ini sudah ada sejak zaman Arab Jahiliah. Mereka percaya, Allah SWT menurunkan banyak bencana di bulan ini, terutama di hari Rabu terakhirnya.
Dalam jurnal ilmiah Mudarrisuna Vol. 10 (2020), Wahab dkk meneliti kepercayaan masyarakat Melayu Sungai Jambu, Kalimantan Barat. Hasilnya, tradisi dan mitos seputar bulan Safar masih kuat dipegang, bahkan dijadikan dasar ritual tolak bala.
Salah satu yang cukup terkenal adalah ritual Rebo Wekasan. Disebut-sebut, asal usulnya datang dari seorang sufi dan dikuatkan oleh hadits lemah (dhaif):
“Barang siapa mengabarkan kepadaku tentang keluarnya bulan Safar, maka aku akan memberi kabar gembira kepadanya untuk masuk surga.”
Namun, perlu dicatat, hadits dhaif tidak bisa dijadikan dasar hukum atau pegangan dalam beragama.
Apa Kata Rasulullah SAW?
Dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, dijelaskan bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menyebut larangan atau keistimewaan bulan Safar.
Sebaliknya, Rasulullah SAW secara tegas menolak anggapan adanya kesialan atau firasat buruk dalam waktu atau tempat tertentu.
Sabda beliau dalam hadits riwayat Bukhari:
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada tanda atau firasat kesialan, dan yang mengherankanku adalah kalimat yang baik dan ucapan yang bagus.”
Pesan ini sangat jelas: jangan percaya pada mitos atau ramalan buruk. Islam tidak membenarkan keyakinan semacam itu.
Penegasan Ulama
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah melalui karya Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani wa Arauhu Al-I’tiqadiyah wa Ash-Shufiyah juga menegaskan hal yang sama. Beliau menyebut bahwa Nabi Muhammad SAW membatalkan kepercayaan jahiliah yang meyakini waktu-waktu tertentu membawa sial.
Bahkan dalam sabdanya disebutkan:
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada larangan pada bulan Safar, dan tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam.”
Kalimat ini merupakan bentuk penolakan terhadap mitos, ramalan, dan firasat yang beredar luas di masa lampau—dan sayangnya, masih dipercaya sebagian orang hingga kini.
Jangan Takut, Bertawakal Saja
Dari semua penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa anggapan Safar sebagai bulan bala adalah mitos. Islam tidak mengajarkan hal tersebut. Justru, kita dianjurkan untuk bersikap tenang, optimis, dan selalu bertawakal kepada Allah SWT.
Rezeki, musibah, dan keselamatan bukan ditentukan oleh bulan atau hari tertentu. Semuanya ada di tangan Allah. Tugas kita adalah terus berbuat baik, berdoa, dan memperkuat iman.
Jadi, tak perlu khawatir berlebihan saat memasuki bulan Safar. Tinggalkan mitos, perkuat tauhid, dan jalani hari-hari dengan keyakinan bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Pelindung.***
Tim Redaksi
