TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Tradisi Penuh Makna dan Berkah

×

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Tradisi Penuh Makna dan Berkah

Sebarkan artikel ini
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura, Banyumas – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, Minggu 20 Juli 2025. Mereka antusias mengikuti tradisi tahunan Grebeg Sura yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H.

Sejak pagi hari, suasana di gerbang Palawi Baturraden sudah ramai. Arak-arakan warga dari 12 desa di Kecamatan Baturraden datang dengan membawa gunungan hasil bumi. Parade budaya ini menjadi bagian utama dalam perayaan Grebeg Sura yang sarat nilai spiritual dan sosial.

Ratusan Peserta, Gunungan Lima Meter

Tak kurang dari 700 peserta mengikuti prosesi budaya tersebut. Mereka mengenakan pakaian adat dan mengarak gunungan setinggi lima meter. Gunungan itu berisi aneka hasil pertanian seperti cabai, tomat, sayuran, buah-buahan, hingga rempah-rempah.

iklan

Puncak acara berlangsung di kawasan Sungai Gumawang, yang menjadi lokasi utama prosesi. Setelah didoakan secara bersama-sama, ribuan penonton langsung berebut isi gunungan. Warga percaya, hasil bumi dari gunungan ini membawa berkah, kesehatan, dan rezeki.

“Saya dapat cabai, buah, dan sayuran. Insyaallah akan saya tanam di rumah, semoga membawa rezeki,” ujar Maryatun, warga Kedung Banteng, yang tampak bahagia usai mengikuti rebutan gunungan.

Hal senada diungkapkan Murningsih, warga Dawuhan Kulon. “Ini bukan sekadar tradisi, tapi wujud syukur kami atas rezeki Tuhan. Semoga keluarga selalu sehat dan berkah,” katanya.

Digelar Mandiri oleh Masyarakat

Tahun ini, pelaksanaan Grebeg Sura berbeda dari sebelumnya. Acara sepenuhnya dikelola oleh masyarakat, tanpa campur tangan langsung dari pemerintah daerah.

“Semangat gotong royong warga sangat terasa. Grebeg Sura tahun ini terasa lebih sakral dan meriah karena diorganisasi langsung oleh masyarakat,” kata Ketua Panitia Grebeg Sura 2025, Beno Suyitno.

Kegiatan ini juga diwarnai kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Tak hanya dari desa-desa sekitar, acara ini melibatkan komunitas offroad, Paguyuban Kemasyarakatan (Pakemas), komunitas perempuan berkebaya, serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyumas.

“Ini bukan hanya tradisi, tapi panggung kolaborasi. Semua komponen masyarakat terlibat aktif dan menampilkan kebudayaan terbaik dari lingkungannya,” tambah Beno.

Daya Tarik Wisata Budaya

Grebeg Sura di Baturraden bukan hanya ritual adat, tetapi juga magnet wisata budaya. Setiap tahun, ribuan pengunjung datang untuk menyaksikan langsung prosesi unik ini.

Pemerintah Kabupaten Banyumas menjadikan Grebeg Sura sebagai kalender tetap pariwisata daerah. Tradisi ini dipandang mampu memperkuat identitas budaya lokal dan menggerakkan ekonomi warga melalui sektor wisata dan UMKM.

“Dengan partisipasi masyarakat yang besar, tradisi ini menjadi kekuatan budaya yang patut dibanggakan. Ini menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal masih hidup dan terus dijaga,” terang Beno.

Melibatkan Generasi Muda

Untuk ke depan, panitia berkomitmen memperluas partisipasi generasi muda dalam pelestarian budaya. Pelibatan anak muda, menurut Beno, penting untuk memastikan tradisi ini terus lestari dan tidak kehilangan makna.

“Kami ingin menjadikan Grebeg Sura sebagai sarana edukasi budaya. Anak-anak muda harus tahu dan bangga terhadap warisan budaya daerahnya,” ujarnya.

Dengan semangat gotong royong dan antusiasme warga, Grebeg Sura Baturraden bukan hanya perayaan adat. Ia adalah simbol kebersamaan, wujud rasa syukur, dan representasi budaya Banyumas yang kaya dan hidup.***

Imam Muzaki

Terbaru dari Imam Muzaki