Portal Pantura, Brebes – Pemerintahan Bupati Paramitha-Wurja menuai sorotan. Pasalnya, di tahun pertama kepemimpinannya, kabupaten ini disebut tidak memiliki anggaran kebencanaan. Namun, isu ini belum terkonfirmasi kebenarannya.
Keluhan keras datang dari Kepala Desa Penggarutan, Rosy Ibnu Hidayat. Ia mengungkapkan kekecewaannya dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Bumiayu, Senin (2/2/2026).
“Saya ngrentes karena penanganan bencana tidak masuk prioritas,” ujar Ibnu di Aula Kecamatan Bumiayu.
Brebes Rawan Bencana, Anggaran Kosong
Ibnu menegaskan, Brebes termasuk daerah rawan bencana. Terutama wilayah selatan yang kerap dilanda banjir bandang.
Kepala desa termuda di Kecamatan Bumiayu ini menyayangkan belum ada bantuan yang turun ke desanya. Padahal, Desa Penggarutan mengalami dampak banjir terparah dibanding Desa Adisana.
“Saya mohon, nyawa-nyawa manusia di pinggir Sungai Keruh dipikirkan,” imbuh Ibnu dengan nada memohon.
Ia meminta agar material sungai segera dikeruk. Tujuannya agar masyarakat di pinggir sungai bisa tidur nyenyak dan tidak terus-menerus dilanda banjir.
Infrastruktur Diklaim Membaik, Bencana Diabaikan?
Yang membuat situasi ini ironis, pemerintahan Paramitha-Wurja justru mengklaim telah memperbaiki infrastruktur.
Di tahun pertama, pasangan bupati-wakil bupati ini menyebut telah memperbaiki jalan sepanjang 177 kilometer. Belum lagi 58 jembatan rusak yang diklaim sudah diperbaiki.
Namun, capaian ini kontras dengan keluhan warga soal penanganan bencana yang minim.
Tokoh Masyarakat Desak Penegakan Hukum
Tokoh masyarakat Brebes wilayah selatan, Karim Naghib, turut angkat bicara. Ia meminta semua pihak lantang menyuarakan kerusakan lingkungan di hulu sungai.
Kerusakan lingkungan di hulu dituding sebagai penyebab utama banjir bandang yang kerap melanda wilayah selatan Brebes.
“Penegakan hukum harus keras,” tegas Karim.
Kepala Desa: Kami Sudah Tidak Sanggup
Kepala Desa Adisana juga mengaku kewalahan. Ia menyatakan tidak mampu menangani banjir sendirian yang datang berkali-kali.
“Kami sudah tidak sanggup lagi menahan banjir,” ujarnya.

