IKLAN
NewsSorotan Utama

Gedung Hoo Gwan Bumiayu Ambruk, Dugaan Kelalaian dan Keselamatan Bangunan Disorot

Avatar photo
×

Gedung Hoo Gwan Bumiayu Ambruk, Dugaan Kelalaian dan Keselamatan Bangunan Disorot

Sebarkan artikel ini
Kondisi Gedung Hogwan di Desa Dukuhturi, Bumiayu, yang ambruk dan menimpa rumah warga hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia, Minggu (30/8/2026). (Foto: Imam Muzaki | Portal Pantura)

Portal Pantura, — Tragedi ambruknya Gedung Hoo Gwan di RW 03, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten , Minggu (30/8/2026), menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus memunculkan pertanyaan serius mengenai keselamatan bangunan tua yang masih dimanfaatkan untuk kegiatan usaha.

Bangunan bekas pabrik tepung tapioka tersebut roboh dan menimpa tiga rumah warga. Peristiwa itu mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, terdiri dari dua anak-anak dan seorang lansia.

IKLAN

Di tengah proses penanganan pascakejadian, perhatian masyarakat kini tertuju pada kondisi fisik Gedung Hogwan sebelum ambruk. Sejumlah pihak menilai kondisi bangunan yang telah mengalami kerusakan, termasuk retakan pada bagian tertentu, semestinya menjadi perhatian serius sebelum bangunan kembali digunakan untuk aktivitas.

Informasi yang disampaikan kepada media menyebutkan, bangunan tersebut telah beralih kepemilikan kepada seorang pengusaha asal Tegal. Gedung itu kemudian dimanfaatkan untuk usaha sarang burung walet.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab memastikan keamanan bangunan sebelum digunakan. Apalagi, apabila benar terdapat keretakan besar atau tanda-tanda kerusakan struktur yang telah terlihat sebelumnya, kondisi tersebut semestinya mendapat pemeriksaan teknis dan penanganan sebelum aktivitas berlangsung.

Masyarakat berharap persoalan tersebut dapat diselidiki secara menyeluruh. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat unsur kelalaian dari pemilik bangunan, pihak yang menyewakan atau mengelola gedung, maupun pihak lain yang memiliki kewenangan terhadap penggunaan bangunan tersebut.

Penyelidikan juga penting untuk memastikan apakah bangunan telah memenuhi standar keselamatan dan apakah sebelumnya sudah pernah dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi struktur. Hal itu diperlukan agar penyebab ambruknya gedung tidak berhenti pada kesimpulan bahwa bangunan tersebut sudah tua.

Petugas gabungan melakukan proses evakuasi dan pembersihan material bangunan Gedung Hogwan yang ambruk di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, , Minggu (30/8/2026). Bangunan runtuh menimpa rumah warga dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. (Foto: Imam Muzaki | Portal Pantura)

Di sisi lain, Gedung Hoo Gwan memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Fuad Hasim Fadholi, Pemegang Kuasa Pengurusan Aset Keluarga Hogwan, menjelaskan bahwa bangunan tersebut dahulu berkaitan dengan aktivitas usaha keluarga Tiras Hendarmo atau yang dikenal dengan nama Hoo Gwan dan Tan Hien Kiat.

Menurut Fuad, salah satu usaha utama Hoo Gwan adalah pabrik tepung tapioka yang beroperasi di bangunan tersebut. Aktivitas usaha kemudian berkembang ke berbagai sektor, termasuk bioskop, perdagangan pupuk dan beras, penggilingan beras, hingga pakan ternak.

Pabrik tapioka tersebut akhirnya berhenti beroperasi setelah Hoo Gwan meninggal dunia di Jakarta pada 26 Juni 1992. Setelah itu, bangunan bekas pabrik tersebut disebut telah berpindah tangan dan tidak lagi menjadi bagian dari aset keluarga.

Sementara itu, Edison dari Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten menyebut Gedung Hoo Gwan memang memiliki latar sejarah sejak era kolonial Belanda. Namun, bangunan tersebut tidak tercatat sebagai cagar budaya maupun Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dalam Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 10 Tahun 2015.

Meski demikian, status cagar budaya bukan satu-satunya persoalan yang perlu diperhatikan. Aspek paling mendesak setelah tragedi ini adalah memastikan bangunan tua yang masih digunakan untuk aktivitas manusia berada dalam kondisi aman secara struktur.

Keluarga korban dan masyarakat berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah maupun pemilik bangunan tua lainnya. Pemetaan, pemeriksaan struktur, serta penghentian sementara aktivitas pada bangunan yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan dinilai penting untuk mencegah jatuhnya korban kembali.

Bantuan sembako disiapkan untuk keluarga korban sebagai bentuk kepedulian dan bela sungkawa dari ahli waris pascatragedi ambruknya Gedung Hogwan di Desa Dukuhturi, Bumiayu, . (Foto: Istimewa)

Di tengah suasana duka, keluarga ahli waris juga memberikan bantuan berupa sembako kepada keluarga korban sebagai bentuk bela sungkawa. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan kebutuhan keluarga dalam pelaksanaan acara tahlilan.

“Bantuan sembako ini merupakan bentuk bela sungkawa dari ahli waris dan semoga sedikit membantu meringankan keluarga korban dalam acara tahlilan,” kata Khafidoh mewakili keluarga ahli waris.

Tragedi Gedung Hogwan menjadi pengingat bahwa bangunan tua bukan sekadar menyimpan sejarah. Ketika bangunan tersebut masih digunakan untuk kegiatan usaha atau aktivitas masyarakat, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama. Setiap tanda kerusakan yang berpotensi membahayakan perlu segera diperiksa dan ditangani agar sejarah tidak kembali dibayar dengan hilangnya nyawa.***

Tim Redaksi

Imam Muzaki
Reporter Imam Muzaki
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Imam Muzaki

Terbaru dari Imam Muzaki