IKLAN
NewsSorotan Utama

Momen Bupati Brebes Tahan Tangis Saat Bahas Bencana dan Pertanian di Lereng Gunung Slamet

Avatar photo
×

Momen Bupati Brebes Tahan Tangis Saat Bahas Bencana dan Pertanian di Lereng Gunung Slamet

Sebarkan artikel ini
Bupati Brebes Paramitha Widyakusuma menyampaikan keprihatinannya atas rangkaian bencana alam yang melanda wilayahnya, dalam Focus Group Discussion bertema tata kelola pertanian dan lingkungan di lereng Gunung Slamet, di Pendopo Bumiayu, Kamis (18/6/2026). Foto: Portal Pantura/Yudhi Prasetyo.
Bupati Brebes Paramitha Widyakusuma menyampaikan keprihatinannya atas rangkaian bencana alam yang melanda wilayahnya, dalam Focus Group Discussion bertema tata kelola pertanian dan lingkungan di lereng Gunung Slamet, di Pendopo Bumiayu, Kamis (18/6/2026). Foto: Portal Pantura/Yudhi Prasetyo.

Portal Pantura, Bumiayu – Bupati Brebes Widyakusuma tak kuasa menahan haru saat menyampaikan keprihatinannya atas deretan bencana yang menimpa warganya sejak awal masa kepemimpinannya.

Di hadapan para pemangku kepentingan, ia mengaku telah berupaya keras mencari bantuan bagi korban yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam yang datang bertubi-tubi.

IKLAN

“Saya pontang-panting mencari bantuan,” ujar dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Tata Kelola Berbasis Kelestarian Lingkungan dan Penanggulangan Bencana Alam di Lereng Gunung Slamet, yang diselenggarakan Pemkab Brebes di Pendopo Bumiayu, Kamis (18/6/2026).

Awal Kepemimpinan yang Diuji Bencana

Sejak pertama memimpin Brebes, langsung dihadapkan pada situasi sulit. Tanah bergerak dan banjir bandang melanda sejumlah wilayah, menyisakan kerugian nyata bagi ribuan warga.

Di tengah kondisi tersebut, muncul permohonan dari sejumlah petani yang ingin membuka lahan baru di lereng gunung untuk budi daya kentang. tidak serta-merta menyetujuinya.

Ia mengaku perlu memikirkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan, termasuk siapa yang akan menanggung risiko apabila bencana kembali terjadi.

Hulu dan Hilir, Dua Sisi yang Saling Terkait

Menurut Paramitha, persoalan yang kerap terlewat dari perhatian adalah keterkaitan antara wilayah hulu dan hilir. Warga di dataran rendah sering menuding aktivitas di kawasan atas sebagai penyebab bencana di wilayah bawah.

Tudingan tersebut, kata dia, bukan tanpa alasan. Namun penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara sepihak.

“Masyarakat harus disejahterakan, namun gunung juga harus dijaga,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembangunan Brebes membutuhkan kolaborasi semua pihak. Baik warga di lereng atas maupun di dataran bawah, menurutnya, memiliki hak yang sama untuk hidup layak.

yang Menekan Ekologi

Kepala Dinas Brebes, Hendri Adi Komara, mengungkapkan bahwa lereng Gunung Slamet merupakan sentra hortikultura yang menjadi tumpuan ekonomi ribuan keluarga petani pegunungan, terutama melalui komoditas kentang.

Namun di sisi lain, aktivitas budi daya yang terus meluas turut menggerus keseimbangan lingkungan. Luas tutupan hutan kian menyusut, sementara fungsi hutan sebagai penyimpan air, penjaga kesuburan tanah, serta penahan erosi dan longsor semakin melemah.

Produktivitas Bukan Lagi Ukuran Tunggal

Hendri menegaskan, orientasi sektor tidak boleh lagi sekadar mengejar hasil panen. Aspek keberlanjutan, menurutnya, harus turut menjadi bagian dari setiap kebijakan.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat yang berkembang dalam forum, bahwa dan pelestarian lingkungan semestinya berjalan beriringan, bukan saling berhadapan.

Perhutani Tawarkan Agroforestri

Administratur Perhutani Pekalongan Barat, Maria Endah Ambarwati, menyoroti kondisi sebagian kawasan lereng Gunung Slamet yang telah mengalami degradasi serius, ditambah persoalan konflik tenurial yang belum terselesaikan.

Sebagai jalan tengah, Perhutani mendorong penerapan pola agroforestri, yakni memadukan tanaman keras dengan komoditas dalam satu lahan. Pola ini dinilai memungkinkan upaya konservasi dan kegiatan ekonomi warga berjalan secara bersamaan.

Desakan Penegakan Aturan yang Konsisten

Sejumlah aktivis lingkungan yang turut hadir dalam forum menilai penegakan aturan terhadap pelanggaran kawasan hutan harus diperketat dan diterapkan tanpa pandang bulu.

Mereka menilai, kompromi yang terus berulang hanya akan memperpanjang daftar bencana di kawasan lereng Gunung Slamet.

Menjaga Slamet, Menjaga Masa Depan

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan di lereng Gunung Slamet bukan sekadar hamparan kebun kentang atau tegakan pohon, melainkan ketersediaan air bagi sawah, kesuburan tanah bagi benih, serta kelangsungan hidup petani yang harus terjaga melampaui satu musim panen.

Emosi yang ditunjukkan Bupati Brebes dalam forum tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa persoalan ini sudah terlalu mendesak untuk hanya dibahas di atas kertas.***

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Yudhi P

Terbaru dari Yudhi P