Dua produsen besar lainnya, SK Hynix dan Samsung, juga tidak ketinggalan. Bahkan beredar kabar divisi memori Samsung enggan menandatangani kontrak jangka panjang dengan divisi smartphone mereka sendiri. Meski Samsung membantah, sinyal di lapangan menunjukkan harga RAM terus merangkak naik.
Kenaikan Harga Sudah Dimulai
Data dari Reuters mencatat Samsung menaikkan harga RAM hingga 60 persen sejak pertengahan tahun ini. Komunitas pengguna PC mengeluhkan harga RAM yang tidak masuk akal.
Xiaomi, salah satu produsen ponsel terbesar, menyatakan kesulitan mempertahankan harga produk mereka. Kenaikan biaya komponen memaksa mereka menyesuaikan harga jual.
Di pasar Indonesia, dampaknya mulai terlihat. iQOO 15 diluncurkan dengan kenaikan harga hingga 30 persen dibanding generasi sebelumnya. Varian termurah naik dari Rp10 juta menjadi Rp13 juta.
HP Entry Level Paling Terdampak
Kenaikan harga paling terasa pada segmen entry level. Ponsel berharga Rp1-2 juta memiliki margin keuntungan sangat tipis.
Ambil contoh Samsung Galaxy A07 yang dijual Rp1,2 juta. Margin keuntungan produsen dari ponsel ini kemungkinan hanya sekitar Rp200 ribu per unit.
Jika harga RAM naik Rp200 ribu, produsen akan merugi. Satu-satunya pilihan adalah menaikkan harga jual. Kenaikan Rp200 ribu dari harga Rp1,2 juta berarti kenaikan sekitar 17 persen—angka yang signifikan.
Bandingkan dengan ponsel flagship seperti Samsung Galaxy S25 Ultra yang dijual di atas Rp20 juta. Margin keuntungan per unit bisa mencapai Rp2-4 juta atau lebih.
Bahkan jika harga RAM naik Rp1 juta, produsen masih bisa menanggung tanpa menaikkan harga. Atau jika harga dinaikkan, persentasenya hanya sekitar 5 persen—relatif lebih ringan bagi konsumen.
Risiko Markup Harga Berlebihan
Kekhawatiran terbesar adalah produsen memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan harga lebih tinggi dari kenaikan biaya komponen.
Tim Redaksi
