Pendapatan operator bioskop CGV melorot 12 persen menjadi Rp 811,5 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp 922,2 miliar.
Kondisi ini memicu penurunan drastis pada laba bersih perseroan yang tersisa Rp 917,1 juta dari sebelumnya mencapai Rp 28,7 miliar.
BRI Danareksa Sekuritas merangkum bahwa bisnis bioskop CGV tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp 485,8 miliar dan F&B sebesar Rp 262,1 miliar.
Meskipun dua segmen utama tersebut mengalami penurunan, segmen acara dan periklanan berhasil tumbuh dari Rp 52,7 miliar menjadi Rp 63,5 miliar.
Manajemen CGV sebenarnya telah melakukan efisiensi dengan memangkas beban umum dan administrasi menjadi Rp 259,9 miliar serta biaya keuangan menjadi Rp 71,6 miliar.
“Beban sudah dipangkas: umum dan administrasi turun ke Rp 259,9 miliar dan biaya keuangan ke Rp 71,6 miliar, tapi laba tetap tertekan,” sebut BRIDS.
Dari sisi posisi keuangan, liabilitas perseroan berkurang 14,29 persen menjadi Rp 1,2 triliun dengan total ekuitas tercatat Rp 451 miliar.
Tekanan kinerja ini berdampak pada harga saham perseroan yang melemah 5,41 persen ke level Rp 2.970 per lembar saham pada perdagangan Kamis 29 Oktober 2026.
Analisis BRIDS menilai bahwa penurunan laba CGV murni disebabkan oleh penyusutan pendapatan akibat sepinya kunjungan penonton, bukan karena pembengkakan biaya operasional.
“Satu-satunya segmen yang tumbuh adalah acara dan iklan. Kalau bioskop tetap lesu, lini ini yang paling mungkin menahan laba ke depan,” pungkas BRIDS.***

