Pola Berulang Selama 14 Tahun Akhirnya Patah
Portal Pantura – Bitcoin mengalami perubahan drastis pada 2025. Untuk pertama kali sejak 2013, mata uang kripto terbesar ini menutup tahun dengan kerugian.
Ini menjadi anomali besar. Pasalnya, selama lebih dari satu dekade, Bitcoin selalu menguat pada tahun setelah halving.
Halving adalah proses pemangkasan hadiah mining menjadi setengah. Event ini terjadi setiap empat tahun sekali. Biasanya, harga Bitcoin naik signifikan setahun setelah halving.
Namun kali ini berbeda. Bitcoin justru turun hampir 28% pada kuartal keempat 2025. Tahun ditutup dengan candle merah, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam siklus serupa.
Mengapa Siklus Empat Tahun Selalu Jadi Patokan?
Pola siklus Bitcoin sudah terlihat sejak 2013, 2017, hingga 2021. Tahun halving biasanya ditutup dengan kenaikan harga. Tahun berikutnya, harga melonjak lebih tinggi. Setelah itu, pasar memasuki fase koreksi.
Pola ini membuat banyak investor percaya bahwa siklus empat tahun adalah “hukum alam” Bitcoin. Mereka menggunakannya sebagai panduan untuk strategi jangka menengah dan panjang.
Tapi siklus terbaru menunjukkan cerita berbeda. Halving 2024 memang berjalan lancar. Harga sempat menguat. Namun 2025 justru berakhir dengan penurunan tajam.
Pertama Kali dalam Sejarah Bitcoin Modern
Penurunan harga di tahun setelah halving ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini menjadi catatan penting dalam sejarah Bitcoin. Pasar kini tidak lagi bergerak hanya berdasarkan siklus suplai akibat halving.
Struktur pasar Bitcoin telah berubah. Investor institusional kini ikut bermain. ETF Bitcoin spot sudah diluncurkan. Likuiditas pasar jauh lebih dalam dibanding satu dekade lalu.
Kondisi makroekonomi global, kebijakan moneter bank sentral, dan sentimen pasar keuangan kini lebih berpengaruh. Bitcoin tidak lagi bergerak di ruang hampa.

