TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ekonomi

Kesepakatan Dagang AS-China Angkat Harga Kedelai, Perajin Tempe Indonesia Terjepit

×

Kesepakatan Dagang AS-China Angkat Harga Kedelai, Perajin Tempe Indonesia Terjepit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tempe. (Foto: Pexels/cottonbro studio)
Ilustrasi tempe. (Foto: Pexels/cottonbro studio)
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – Harga kedelai global bergerak naik. Pemicunya: kesepakatan dagang baru antara Amerika Serikat dan China yang membuat pasar komoditas pertanian kembali bergairah.

China berkomitmen membeli produk pertanian senilai 17 miliar dollar per tahun hingga 2028. Setara sekitar Rp 301,17 triliun dengan kurs Rp 17.710 per dollar .

Kabar itu langsung menggerakkan pasar berjangka. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga futures kedelai sempat naik sekitar 2 persen mendekati 12 dollar per bushel atau sekitar Rp 212.592 per bushel.

China Janjikan Tambahan 25 Juta Metrik Ton

iklan

Kenaikan harga tak hanya soal nilai kesepakatan. China juga disebut berkomitmen menambah pembelian 25 juta metrik ton kedelai setiap tahun mulai 2026 hingga 2028.

Analis Farm Futures, Bryce Knorr, menilai komitmen itu bisa mendorong harga lebih tinggi jika realisasi pembelian benar-benar terjadi.

Dalam analisisnya di Farm Progress, Knorr memproyeksikan harga futures kedelai November berpeluang naik ke kisaran 13 hingga 14 dollar per bushel atau sekitar Rp 230.308 hingga Rp 248.024 per bushel.

“Bagaimana tambahan 25 juta metrik ton itu memengaruhi harga tergantung pada banyak faktor,” tulisnya.

Ekspor ke China Sempat Anjlok 65 Persen

Kesepakatan ini datang di tengah kondisi perdagangan yang sedang lesu. Berdasarkan laporan Reuters, ekspor pertanian ke China turun tajam 65,7 persen secara tahunan pada 2025 menjadi 8,4 miliar dollar atau sekitar Rp 148,81 triliun.

Penurunan itu terjadi akibat konflik tarif yang berlarut-larut antara kedua negara.

Di sisi lain, ketergantungan China terhadap kedelai juga menyusut. Porsi impor kedelai China dari AS turun dari 41 persen pada 2016 menjadi hanya sekitar 20 persen pada 2024.

Kesepakatan terbaru ini pun dipandang pasar sebagai peluang pemulihan hubungan dagang, khususnya sektor pertanian.

Pasar Masih Skeptis

Tidak semua pihak optimistis. Barron’s mencatat China pernah membuat janji serupa dalam kesepakatan dagang fase pertama pada 2020, namun realisasinya tidak sepenuhnya tercapai.

Sejumlah hambatan juga masih mengintai, mulai dari harga daging sapi AS yang tinggi, keterbatasan pasokan akibat kekeringan, hingga hubungan dagang China yang kian erat dengan Brasil.

Selain itu, China sendiri tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan. Reuters melaporkan, China mendorong efisiensi penggunaan pakan ternak yang berpotensi memangkas impor kedelai hingga 25 persen dalam dekade ini.

Brasil Tetap Jadi Pesaing Berat

Brasil tidak tinggal diam. Ekspor kedelai Brasil ke China sepanjang 2025 mencapai 34,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 611,20 triliun.

Produksi kedelai Brasil bahkan diproyeksikan mencetak rekor 180 juta ton pada 2026. Broker Stag International menilai Brasil tetap memiliki daya saing struktural yang kuat di pasar global.

Artinya, persaingan pasar kedelai dunia masih akan berlangsung ketat meski AS membuka kembali peluang ekspor ke China.

Indonesia Menanggung Beban Impor

Bagi Indonesia, potensi kenaikan harga kedelai global bukan sekadar angka di layar bursa. Dampaknya terasa langsung.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total impor kedelai Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,56 juta ton, atau sekitar 90 persen dari total kebutuhan nasional.

Lembaga riset NEXT Indonesia Center menyoroti masalah yang lebih dalam. Kepala Penelitinya, Ade Holis, menyebut selisih harga kedelai internasional dengan harga eceran domestik terlalu lebar untuk dijelaskan hanya oleh biaya distribusi.

Berdasarkan data mereka, harga kedelai impor di tingkat eceran domestik sepanjang Februari 2024 hingga Februari 2026 berada di kisaran Rp 13.300 hingga Rp 15.100 per kilogram. Sementara harga acuan internasional hanya Rp 6.000 hingga Rp 8.100 per kilogram.

Selisihnya mencapai Rp 5.600 hingga Rp 8.500 per kilogram.

“Ketimpangan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam transmisi harga dari global ke domestik,” ujar Ade Holis, Minggu (10/5/2026).

Kajian NEXT Indonesia Center memperkirakan importir menikmati marjin indikatif sekitar Rp 5.060 per kilogram. Jika dikalikan volume impor 2,56 juta ton, potensi keuntungan importir bisa menembus Rp 12,9 triliun dalam setahun.

Perajin Tempe Malang: Ukuran Diperkecil, Harga Tetap

Di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, para perajin memilih tidak menaikkan harga jual. Strategi mereka: memperkecil ukuran.

Salah satu karyawan pengrajin, Ami, mengatakan harga kedelai kini sudah menyentuh Rp 10.900 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp 9.800 per kilogram.

“Kalau harga tempe tidak kita naikkan, jadi harganya tetap. Ukurannya saja yang kita kecilkan, lebih tipis dari sebelumnya, kira-kira 1,5 centimeter,” kata Ami, Selasa (19/5/2026).

Satu lonjor tempe ukuran besar dijual Rp 23.000 hingga Rp 25.000. Ukuran kecil dijual Rp 18.000 hingga Rp 20.000.

Dampaknya mulai terasa di pasar. Pelanggan yang biasa membeli tempe senilai Rp 10.000 kini banyak yang hanya membeli Rp 5.000 hingga Rp 7.000.

Produksi pun ikut turun. Dari semula 7 hingga 8 kuintal per hari, kini hanya sekitar 6,5 kuintal.

“Harapan kami pemerintah bisa membantu produsen tempe rumahan seperti kami, dengan menurunkan harga kedelai,” ujar Ami.

Perajin Semarang: Harga Naik, Plastik Kemasan Melonjak 70 Persen

Di Kota Semarang, kondisinya tak jauh berbeda. Adip Muharam, produsen tempe di Pandean Lamper, Gayamsari, mengatakan harga kedelai sudah naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.500 hingga mendekati Rp 11.000 per kilogram sejak awal 2026.

“Karena kedelai kita memang mayoritas impor, jadi mau tidak mau ikut harga impor. Kalau kurs dollar makin naik, otomatis harga kedelai juga naik terus,” katanya, Selasa (19/5/2026).

Beban produksi makin berat karena harga plastik kemasan ikut melonjak. Ati, produsen lainnya, menyebut harga satu rol plastik melejit dari Rp 550.000 menjadi Rp 1,15 juta, atau naik sekitar 70 persen.

Akibatnya, harga tempe per bungkus naik bertahap dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000 sejak Mei 2026.

“Yang kami khawatirkan itu ketika harga makanan naik semua, tapi ekonomi masyarakat turun. Akhirnya pembeli berkurang,” kata Ati.

Produksi di tempat usahanya masih sekitar 5 hingga 6 kuintal per hari atau 2.000 hingga 3.000 potong tempe. Dipasarkan ke pasar tradisional, toko sayur, warung makan, hingga katering di Semarang.

Ati berharap pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Sebisa mungkin kurs rupiah itu tetap stabil sehingga harga-harga bahan baku seperti kedelai dan plastik juga bisa ikut stabil,” harapnya.

Bagi Indonesia, tantangan kedelai belum akan berakhir dalam waktu dekat. Selama ketergantungan terhadap impor masih tinggi dan rupiah tetap tertekan terhadap dollar AS, setiap gejolak harga global akan terus memukul perajin tempe di ujung rantai pasok.***

Setyo

Terbaru dari Setyo