Portal Pantura – Nilai tukar rupiah kembali tertekan. Mata uang Garuda ditutup melemah 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp 17.127 per dolar AS di pasar spot pada Selasa (14/4/2026).
Pelemahan ini bukan tanpa sebab. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah hari ini.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar Global
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali membayangi pasar keuangan global. Militer AS sebelumnya mengumumkan perluasan blokade di Selat Hormuz hingga mencakup Teluk Oman dan Laut Arab.
Dampaknya langsung terasa. Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal mengubah haluan ketika kebijakan blokade mulai diberlakukan.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, blokade itu memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.
“Tanda-tanda potensi dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang mengurangi kekhawatiran tentang risiko pasokan dari blokade di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim, Selasa sore.
Iran sempat mengancam akan menyerang pelabuhan di negara-negara sekitar Teluk. Ancaman itu muncul pasca gagalnya pembicaraan yang digelar di Islamabad.
Namun, ada sinyal meredanya ketegangan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan upaya deeskalasi masih berjalan. Presiden AS Donald Trump pun mengakui Iran menunjukkan keinginan untuk berunding.
Sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih tidak bergabung dalam blokade. Keduanya justru mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan harga minyak akan mencapai puncaknya dalam beberapa pekan ke depan, sebelum kembali stabil seiring normalisasi distribusi energi global.
Lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) telah mengingatkan negara-negara anggota agar tidak menimbun energi atau membatasi ekspor. Situasi ini dinilai sebagai salah satu guncangan terbesar dalam pasar energi dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Dunia Usaha Masuk Fase Wait and See
Ketidakpastian global tak hanya memukul nilai tukar. Dunia usaha dalam negeri pun mulai menahan diri.
Ibrahim menilai, eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi AS-Iran membuat pelaku usaha lebih berhati-hati. Ekspektasi bisnis menurun. Penjualan stagnan.
“Ekspansi tidak sepenuhnya terhenti, melainkan mengalami penyesuaian strategi,” kata Ibrahim.
Pelaku usaha kini cenderung menunda investasi besar yang padat modal. Fokus beralih ke efisiensi dan optimalisasi operasional.
Arah investasi pun bergeser. Sektor pangan, energi, dan digital menjadi pilihan utama karena dinilai lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Setidaknya ada enam faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi saat ini, yakni ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan.
Harapan Perbaikan di Semester II-2026
Meski kondisi saat ini penuh tekanan, ada titik harapan. Ibrahim memperkirakan perbaikan kinerja bisnis berpotensi terjadi pada semester II-2026.
Syaratnya: tidak ada eskalasi lanjutan konflik global.
Konsumsi domestik tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Namun, daya beli masyarakat perlu dijaga agar fondasi ini tidak goyah.
Ibrahim menegaskan, ada sejumlah langkah yang perlu segera dilakukan pemerintah untuk mendorong ekspansi. Di antaranya adalah kepastian regulasi, pemberian insentif fiskal, dan kemudahan berinvestasi.
Selain itu, stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi faktor krusial. Percepatan belanja pemerintah serta deregulasi di sektor logistik dan perizinan dinilai kunci untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Dengan kata lain, stabilitas dari dalam negeri menjadi benteng terbaik menghadapi badai dari luar.***

