Portal Pantura, Jakarta – Mata uang rupiah mencatatkan penguatan di akhir perdagangan Selasa ( 9/12/2025). Kurs ditutup pada level Rp16.676 per dolar Amerika Serikat.
Pencapaian ini menunjukkan apresiasi sebesar 19 poin atau setara 0,11 persen dibanding posisi penutupan sebelumnya di Rp16.695 per dolar AS.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Para analis pasar uang menilai penguatan rupiah didorong sentimen positif pelaku pasar. Ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve sebesar 25 basis poin menjadi katalis utama.
Kebijakan moneter yang lebih longgar dari bank sentral AS diprediksi akan mengurangi daya tarik aset dolar. Kondisi ini membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun optimisme pasar belum sepenuhnya solid. Sejumlah investor masih menunjukkan sikap hati-hati dalam mengambil posisi.
Ketidakpastian Ekonomi AS Masih Membayangi
Kehati-hatian investor muncul karena sinyal beragam dari pembuat kebijakan The Fed. Para pejabat bank sentral AS baru-baru ini menyampaikan pernyataan yang menunjukkan ketidakpastian.
Ketidakpastian tersebut terutama terkait kekuatan fundamental ekonomi Amerika Serikat ke depan. Data ekonomi AS yang masih bercampur membuat proyeksi arah kebijakan moneter sulit diprediksi.
Situasi ini membuka kemungkinan siklus pelonggaran moneter berjalan lebih bertahap. Bahkan tidak menutup kemungkinan jadwal pemangkasan suku bunga mengalami penundaan.
Kurs JISDOR Bank Indonesia Turut Menguat
Penguatan rupiah juga tercermin dalam Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Kurs referensi yang ditetapkan Bank Indonesia ini bergerak ke posisi Rp16.677 per dolar AS.
Angka tersebut lebih kuat dibanding penetapan hari sebelumnya yang tercatat di level Rp16.688 per dolar AS. Selisih penguatan mencapai 11 poin.
JISDOR merupakan kurs referensi transaksi spot dolar AS terhadap rupiah. Penetapannya berdasarkan data transaksi aktual di pasar valuta asing domestik.
Outlook Pergerakan Rupiah
Pergerakan rupiah dalam jangka pendek diprediksi masih akan dipengaruhi dinamika kebijakan The Fed. Keputusan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi fokus utama pelaku pasar.
Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik juga akan mempengaruhi stabilitas nilai tukar. Kinerja neraca perdagangan dan arus modal asing menjadi indikator penting yang perlu dicermati.
Para analis menyarankan pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap volatilitas. Fluktuasi nilai tukar dalam rentang tertentu masih mungkin terjadi seiring dinamika sentimen global.***

