Portal Pantura, Jakarta – Bursa saham Indonesia mengawali pekan ini dengan kabar buruk. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 252,63 poin atau 4,52 persen ke level 5.342,14 pada Senin, 8 Juni 2026.
Tekanan jual terjadi sejak pagi hingga penutupan. Tidak ada pemulihan berarti sepanjang sesi perdagangan. Nilai transaksi harian melonjak hingga Rp24,05 triliun, menandakan aksi jual berlangsung masif dan meluas.
Saham Perbankan Jadi Pusat Tekanan
Sektor perbankan menjadi yang paling terpukul hari ini.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan nilai transaksi tertinggi sebesar Rp3,96 triliun dengan volume 787,20 juta lembar saham. Namun harganya tertekan ke level 4.850.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga tak luput. Nilai transaksinya mencapai Rp2,36 triliun dengan volume 921,80 juta lembar, sementara harga sahamnya tertekan ke level 2.590.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat transaksi Rp1,42 triliun dengan volume 376,60 juta lembar.
Besarnya volume transaksi di ketiga saham ini mengindikasikan investor besar melakukan pelepasan aset secara besar-besaran.
Saham Lain Ikut Tertekan
Di luar perbankan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga menjadi perhatian pasar. Nilai transaksinya mencapai Rp1,51 triliun melalui 623,10 juta lembar saham.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan volume perdagangan sangat tinggi, yakni 8,97 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp1,22 triliun.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melengkapi daftar saham teraktif dengan nilai transaksi Rp769,18 miliar dan volume 300,50 juta lembar.
Indeks Acuan Lain Ikut Melemah
Pelemahan tidak hanya menghantam IHSG. Indeks LQ45 turun lebih dalam, yakni 5,50 persen atau 30,7 poin ke posisi 527,08.
Indeks syariah ISSI juga terkoreksi 5,11 persen ke level 184,61. Mayoritas indeks sektoral berakhir di zona merah, mencerminkan kepanikan yang merata di hampir seluruh segmen pasar.
Aktivitas Perdagangan Melonjak
Total volume perdagangan hari ini mencapai 33,63 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,23 juta kali.
Tingginya frekuensi ini mencerminkan rebalancing portofolio besar-besaran oleh para investor. Sentimen negatif tampak kuat menekan optimisme pasar di awal pekan ini.***

