Portal Pantura – Kabar baik bagi masyarakat. Pemerintah bersiap merombak skema penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) menjadi bentuk transfer tunai langsung. Rencananya, besaran bantuan ini diproyeksikan mencapai sekitar Rp5,4 juta per keluarga.
Langkah inovatif ini diambil untuk memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan manfaatnya secara adil. Uji coba program bansos tunai ini dijadwalkan berlangsung pada kuartal pertama dan kedua tahun 2027 mendatang.
Uji Coba Bansos Tunai Mulai Awal 2027
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, saat ini pemerintah sedang bekerja keras merapikan data penerima. Harmonisasi data menjadi kunci utama agar bantuan tidak lagi salah sasaran.
“Kami merencanakan akhir tahun ini mesti selesai semua itu. Awal tahun depan, kuartal 1-2 kita akan uji coba,” ungkap Luhut saat memberikan keterangan di Jakarta.
Meski nantinya berbentuk uang tunai, penggunaannya tidak bisa dilakukan sembarangan. Pemerintah tengah merancang mekanisme pengawasan khusus agar dana bansos benar-benar dialokasikan untuk kebutuhan pokok yang membangun kualitas SDM.
Fokus Penuhi Gizi, Tolak Judi Online
Penyaluran bansos tunai ke depan akan diatur sedemikian rupa, salah satunya melalui kemungkinan penggunaan sistem kupon. Tujuannya sangat jelas, yakni memastikan pemenuhan gizi keluarga penerima.
Luhut dengan tegas mengingatkan bahwa dana bantuan dilarang keras digunakan untuk hal-hal yang merusak ekonomi keluarga.
“Bansos itu nanti pada ujungnya akan kita berikan cash. Mungkin pakai kupon, supaya penggunaannya benar. Tidak boleh untuk judol (judi online), minuman keras. Tapi mungkin untuk telur, ayam, dan sebagainya,” tuturnya menegaskan komitmen pemerintah.
Terkait besaran pasti yang mencapai angka Rp5,4 juta per keluarga, Luhut menyebut nominal tersebut masih dalam tahap perhitungan dan menunggu ketukan palu dari Presiden Prabowo Subianto.
Teknologi Pengenalan Wajah Pastikan Tepat Sasaran
Demi mewujudkan asas keadilan sosial, pemerintah tidak main-main dalam hal verifikasi data. Sistem penyaluran bansos terbaru ini akan mengintegrasikan teknologi digital canggih secara langsung dengan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri.
Satu terobosan penting yang akan diterapkan adalah penggunaan teknologi pengenalan wajah (face recognition). Langkah ini diharapkan mampu menyapu bersih masalah klasik seperti data ganda atau penerima yang tidak berhak.
Bagi warga yang terverifikasi memenuhi kriteria, dana akan langsung ditransfer. Sebaliknya, sistem yang baru ini juga dinilai lebih humanis karena pemerintah membuka ruang sanggah bagi masyarakat yang merasa berhak namun belum terdaftar.
“Jadi akan targeted (tepat sasaran) dan akan membuat keadilan. Sekarang kan banyak yang tidak berhak menerima. Tetapi yang berhak, banyak juga yang tidak menerima,” pungkas Luhut.
Lewat pengembangan sistem yang dilakukan secara bertahap ini, pemerintah optimis dapat mengevaluasi setiap kekurangan sebelum diterapkan secara nasional. Harapannya, bansos tunai ini menjadi jalan keluar yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.***

