IKLAN
Gaya Hidup

11 Makanan yang Diam-Diam Merusak Otak, Ada yang Dianggap Sehat

Avatar photo
×

11 Makanan yang Diam-Diam Merusak Otak, Ada yang Dianggap Sehat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. (Foto: Citra Dwi fardiah/Pexels)
Ilustrasi. (Foto: Citra Dwi fardiah/Pexels)

Portal Pantura – Otak bekerja keras setiap detik. Tapi tanpa disadari, yang kita konsumsi setiap hari bisa memperlemah kinerjanya.

Beberapa di antaranya bahkan tampak sehat. Berlabel “berbasis tumbuhan”, “gandum utuh”, atau “tinggi protein”—namun menyimpan risiko nyata bagi fungsi kognitif, daya ingat, dan konsentrasi.

IKLAN

Berikut daftar dan minuman yang perlu diwaspadai.

Yoghurt Berperisa

Yoghurt dikenal baik untuk kesehatan usus. Tapi tidak semua yoghurt sama.

Menurut Dr. Maniscalco, yoghurt berperisa sering mengandung gula setara penutup. Konsumsi rutin dapat memicu peradangan dan resistensi insulin yang berujung pada penurunan daya ingat.

Alternatif lebih baik: Greek yogurt tawar dengan buah beri dan taburan kayu manis.

Keripik Sayur (Vegetable Straws)

Namanya sayuran, tapi manfaatnya jauh dari itu.

Keripik sayur umumnya digoreng dengan minyak biji-bijian seperti minyak bunga matahari atau kanola yang bersifat pro-inflamasi. Proses pengolahan juga menghilangkan sebagian besar nutrisi penting.

Konsumsi jangka panjang berpotensi memicu peradangan pada sistem saraf. Solusinya: panggang sendiri kale, bit, atau ubi jalar menggunakan minyak zaitun.

Granola Bar

Praktis dan terlihat sehat—tapi banyak granola bar di pasaran sudah melalui pemrosesan berat.

Kandungan gula halus, perisa buatan, dan zat tambahan di dalamnya dapat mengganggu sistem dopamin di otak. Dampaknya: fokus menurun, daya ingat melemah, suasana hati tidak stabil.

Lebih aman membuat sendiri energy balls dari oat, selai kacang, dan madu.

Protein Shake dengan Pemanis Buatan

Banyak protein shake mengandung pemanis buatan seperti aspartam. Produk ini tampak sehat karena rendah gula—padahal menyimpan risiko.

Dr. Maniscalco menjelaskan bahwa pemanis buatan dapat mengganggu hubungan antara usus dan otak (gut-brain axis). Beberapa penelitian mengaitkannya dengan gangguan suasana hati dan penurunan kemampuan kognitif.

Pilihan lebih aman: campurkan bubuk protein tanpa pemanis bersama pisang, bayam, dan susu almond.

Roti Gandum Utuh

Berlabel “gandum utuh” bukan jaminan aman bagi otak.

Dr. Maniscalco mengingatkan bahwa karbohidrat yang mudah dicerna dalam roti ini bisa menyebabkan lonjakan gula darah. Lonjakan tersebut memberi tekanan pada hippocampus—bagian otak yang vital untuk memori dan proses belajar.

Hasilnya bisa berupa brain fog atau pikiran yang sulit fokus. Alternatif yang lebih baik: sprouted bread atau roti dari ubi jalar.

Jus Buah

Dibuat dari buah, bukan berarti otomatis sehat.

Sebagian besar jus buah kehilangan serat penting saat diproses dan mengandung fruktosa dalam kadar tinggi. Menurut Dr. Maniscalco, konsumsi berlebihan dapat mengganggu kemampuan berpikir dan memicu peradangan di otak.

Cara terbaik: makan buah utuh langsung. Jika ingin minuman segar, coba air infused dengan mint dan irisan jeruk.

Daging Alternatif Berbasis Tumbuhan

Label “berbasis tumbuhan” tidak otomatis berarti sehat.

Banyak produk daging imitasi mengandung minyak biji-bijian dan perisa sintetis. Zat-zat ini dapat mengganggu keseimbangan neurotransmitter dan meningkatkan stres oksidatif di otak.

Lebih baik pilih protein nabati alami: lentil, kacang chickpea, atau tempe panggang.

Ikan Todak

Ikan todak mengandung merkuri dalam kadar tinggi. Fakta ini kerap luput dari perhatian.

Dr. Janine Bowring, ahli neuroscience, memperingatkan bahwa logam berat seperti merkuri dapat merusak sel-sel otak. Akumulasinya berkaitan dengan gangguan memori, sulit fokus, hingga keterlambatan perkembangan kognitif.

Margarin

Margarin mengandung lemak trans—hasil dari proses hidrogenasi minyak nabati. Lemak ini memicu peradangan di otak dan sistem saraf.

Menurut Bowring, lemak trans mengganggu kerja membran sel otak sehingga komunikasi antar sel terhambat. Bahkan produk berlabel “sehat” tetap berisiko bila dikonsumsi berlebihan.

Kentang Goreng

Minyak nabati yang digunakan untuk menggoreng kentang mengandung lemak tak jenuh ganda (PUFA) yang bersifat pro-inflamasi.

Bowring menegaskan berbagai studi membuktikan konsumsi gorengan berlebih menurunkan kemampuan otak. Kandungan kalori tinggi, lemak trans, dan senyawa akrilamida dalam kentang goreng menjadi kombinasi berbahaya bagi kesehatan saraf.

Sereal Manis

Sereal manis menyebabkan gula darah naik-turun drastis dalam waktu singkat. Fluktuasi ini membuat otak kesulitan mempertahankan energi stabil.

Jika dikonsumsi rutin, risiko resistensi insulin meningkat. Kandungan gluten dalam banyak jenis sereal juga dikaitkan dengan peradangan yang memperbesar risiko penyakit Alzheimer.

Intinya: yang tampak sehat belum tentu baik untuk otak. Membaca label, memilih bahan alami, dan meminimalkan produk ultra-proses adalah langkah awal yang nyata untuk menjaga kesehatan kognitif jangka panjang.***

Tim Redaksi

Julista Putri
Reporter Julista Putri
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura