IKLAN
Gaya Hidup

Kalender Jawa 1 Agustus 2026: Weton Sabtu Kliwon, Neptu, dan Wataknya

Avatar photo
×

Kalender Jawa 1 Agustus 2026: Weton Sabtu Kliwon, Neptu, dan Wataknya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kalender Jawa. (Foto: Generate ChatGPT)
Ilustrasi kalender Jawa. (Foto: Generate ChatGPT)

Portal Pantura – Penanggalan Jawa tetap menjadi panduan penting bagi masyarakat dalam menentukan hari baik hingga membaca karakter seseorang. Hari ini, Sabtu, 1 Agustus 2026, bertepatan dengan 16 Sapar 1960 dalam kalender tradisional Jawa.

Sistem Penanggalan Perpaduan Lunar

menggabungkan peredaran bulan dengan siklus Pancawara (lima hari pasaran) dan Saptawara (tujuh hari dalam sepekan). Penanggalan ini memiliki kemiripan dengan kalender Hijriah karena sama-sama berbasis qamariyah.

IKLAN

Pergantian hari dalam tradisi ini dimulai saat matahari terbenam atau bakda magrib. Hal ini tentu berbeda dengan kalender Masehi yang memulai hari baru pada pukul 00.00 tengah malam.

Rincian Penanggalan Sabtu Kliwon

Masyarakat kerap memanfaatkan perhitungan untuk merencanakan berbagai acara penting seperti pernikahan atau pindah rumah. Berikut adalah rincian lengkap untuk hari Sabtu, 1 Agustus 2026.

  • : 16 Sapar 1960
  • Kalender Masehi: Sabtu, 1 Agustus 2026
  • Kalender Hijriah: 17 Safar 1448 H
  • Hari / Pasaran: Sabtu Kliwon

Watak dan Karakter Sabtu Kliwon

Sabtu Kliwon memiliki jumlah neptu 17 yang berasal dari penjumlahan hari Rabu (9) dan pasaran Kliwon (8). Pemilik ini umumnya dikenal sebagai sosok yang sabar serta pandai mengendalikan emosi.

Mereka memiliki tekad kuat, pantang menyerah, serta kemampuan komunikasi yang baik di tengah masyarakat. Kendati demikian, salah satu kelemahan mereka adalah sifat keras kepala dan cenderung ingin menang sendiri.

Perjalanan Sepanjang Agustus

Bulan Agustus 2026 mencakup dua bulan penting dalam penanggalan Jawa, yakni Sapar dan Mulud. Transisi ini ditandai dengan pergantian menuju 1 Mulud 1960 pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Memasuki bulan Mulud, masyarakat bersiap menyambut peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berbagai tradisi Maulid yang sarat makna budaya masih terus dilestarikan hingga kini.***

Tim Redaksi

Setyo
Reporter Setyo
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura