Portal Pantura – Kalender Jawa masih menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang digunakan untuk mengetahui weton, pasaran, hingga perhitungan neptu pada setiap tanggal. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, penanggalan Jawa mencatat hari tersebut bertepatan dengan Minggu Pahing dengan nilai neptu 14.
Tanggal tersebut juga bertepatan dengan 9 Mulud 1960 Jawa atau dalam hitungan lain disebut 10 Mulud, serta masuk dalam kalender Islam pada 10 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Momen ini bertepatan dengan bulan yang memiliki nilai penting bagi umat Islam karena berada dalam rangkaian bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kalender Jawa 23 Agustus 2026: Weton Minggu Pahing
Dalam tradisi Jawa, weton merupakan gabungan antara hari dalam kalender Masehi dan pasaran Jawa. Perhitungan weton sering digunakan sebagai bagian dari budaya untuk mengenal karakter, peruntungan, hingga menentukan hari baik dalam berbagai kegiatan.
Pada 23 Agustus 2026, weton yang tercatat adalah:
- Hari Masehi: Minggu, 23 Agustus 2026
- Hari Jawa: Minggu Pahing
- Pasaran: Pahing
- Bulan Jawa: Mulud 1960
- Bulan Hijriah: 10 Rabiul Awal 1448 H
Perhitungan Neptu Minggu Pahing
Dalam sistem penanggalan Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki nilai angka yang disebut neptu. Nilai tersebut kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan jumlah neptu weton.
Weton Minggu Pahing memiliki jumlah neptu:
- Minggu: 5
- Pahing: 9
- Total neptu: 14
Angka neptu tersebut menjadi salah satu bagian dari tradisi perhitungan Jawa yang masih dipelajari dan dilestarikan hingga saat ini.
Makna Bulan Mulud dalam Kalender Jawa
Bulan Mulud atau Rabiul Awal dikenal sebagai salah satu bulan penting dalam kalender Jawa-Islam. Pada bulan ini, umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat.
Di berbagai daerah, bulan Mulud sering diisi dengan pengajian, selawat, kegiatan sosial, hingga tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Kalender Jawa dan Tradisi Masyarakat
Meski perkembangan zaman terus berubah, kalender Jawa tetap memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan sebagian masyarakat. Selain menjadi penanda waktu, weton juga menjadi bagian dari warisan budaya yang menghubungkan nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal.
Tim Redaksi
