Portal Pantura – Keluhan pusing setelah berbuka puasa ternyata lebih umum dari yang dikira. Bukan sekadar kelelahan biasa, ada mekanisme tubuh yang perlu dipahami di baliknya.
Momen berbuka puasa seharusnya menjadi waktu yang dinantikan. Namun, sebagian orang justru merasakan kepala berputar, terasa ringan, bahkan disertai mual sesaat setelah menyantap hidangan berbuka. Kondisi ini kerap membingungkan dan mengganggu, terutama ketika masih ada salat Magrib dan tarawih yang harus ditunaikan.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh?
Lonjakan dan Penurunan Gula Darah, Biang Keladi Utama
Selama berpuasa sekitar 12 jam atau lebih, tubuh tidak mendapat asupan makanan maupun minuman sama sekali. Dalam rentang waktu itu, kadar gula darah perlahan menurun. Kondisi ini sebetulnya masih dalam batas wajar selama tubuh sehat.
Masalah muncul ketika waktu berbuka tiba dan banyak orang langsung mengonsumsi makanan dan minuman manis dalam porsi besar sekaligus. Respons tubuh terhadap asupan gula yang tiba-tiba dan berlebihan inilah yang memicu rangkaian reaksi berikut:
Pertama, kadar gula darah melonjak drastis dalam waktu singkat. Kedua, pankreas merespons dengan melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk menekan lonjakan tersebut. Ketiga, produksi insulin yang berlebih justru membuat gula darah turun terlalu cepat setelahnya — kondisi ini dikenal sebagai hipoglikemia reaktif.
Ketika gula darah jatuh mendadak, tubuh mengirimkan sinyal berupa lemas, gemetar, berkeringat, hingga kepala pusing. Inilah jawaban utama dari pertanyaan yang sering muncul seputar pusing setelah berbuka puasa.
Faktor Lain yang Memperparah Kondisi
Pusing setelah berbuka tidak selalu berdiri sendiri. Seringkali kondisi ini merupakan akumulasi dari beberapa faktor yang sudah berlangsung sejak siang hari.
Dehidrasi menjadi salah satu pemicu paling umum. Kurangnya cairan membuat aliran darah menuju otak tidak optimal, yang kemudian memunculkan gejala seperti sakit kepala, lemas, dan urine berwarna lebih gelap dari biasanya.
Tekanan darah rendah juga bisa menjadi faktor. Saat tekanan darah menurun, suplai darah ke otak berkurang dan memunculkan sensasi melayang atau pandangan berkunang-kunang.
Tak kalah penting, kurang tidur akibat perubahan jadwal sahur dan ibadah malam membuat tubuh tidak cukup beristirahat. Kondisi fisik yang sudah kelelahan jauh lebih rentan mengalami sakit kepala, bahkan ketika penyebab lain tidak ada.
Tiga Langkah Sederhana untuk Meredakan Pusing
Jika pusing sudah terlanjur muncul, ada beberapa cara yang dapat dicoba untuk meringankannya.
Pertama, kompres kepala dengan es. Bungkus beberapa bongkah es batu dengan kain bersih, lalu tempelkan pada bagian kepala yang terasa berat. Sensasi dingin membantu melancarkan aliran darah dan meringankan rasa nyeri.
Kedua, pijat ringan area wajah dan kepala. Gunakan ujung jari untuk membuat gerakan melingkar dari tulang pipi ke arah atas, melewati sisi luar mata, dan berakhir di tengah dahi. Pijatan ringan ini cukup efektif meredakan tekanan di kepala.
Ketiga, lakukan relaksasi sejenak. Duduk tenang, bernapas dalam, atau melakukan peregangan ringan dapat membantu tubuh pulih lebih cepat dari fluktuasi gula darah yang terjadi.
Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati
Cara paling efektif tentu adalah mencegah pusing sebelum terjadi. Awali berbuka dengan segelas air putih dan beberapa butir kurma, bukan langsung menyerbu makanan manis dalam porsi besar. Pendekatan ini memberi waktu bagi tubuh untuk kembali bekerja secara bertahap.
Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi — sekitar delapan gelas air antara berbuka hingga sahur. Tidur yang cukup pun tidak kalah penting agar tubuh memiliki energi yang stabil sepanjang hari berikutnya.
Tubuh yang berpuasa seharian membutuhkan transisi, bukan kejutan. Memberi jeda kecil sebelum makan besar adalah investasi kecil untuk menjaga kenyamanan ibadah Ramadan secara keseluruhan.***
Tim Redaksi
