Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, tak mau melewatkan momentum ini. “Kita jangan cuma pakai. Kita harus bisa buat. Becak listrik ini bisa jadi kebanggaan Kota Tegal,” tegasnya.
Teguh Arief, Ketua YGSN, menambahkan program ini bukan sekadar pengadaan kendaraan, tapi pengembalian martabat manusia.
“Bayangkan, mereka biasanya cuma kuat dua jam. Sekarang, dengan becak listrik, bisa delapan jam. Penghasilan naik, tubuh tak tersiksa, dan hati tetap bangga karena mereka tetap bekerja,” ujarnya.
Distribusi becak listrik ini telah menjangkau Jawa Timur, Madura, dan kini Jawa Tengah. Sebanyak 100 unit becak listrik disalurkan untuk Tegal, Pemalang, Batang, dan Pekalongan.
Ini baru awal. Target nasional 70.000 becak listrik, Sebuah gerakan sosial dan mungkin lebih nyata dari sekadar program-program formal.
Sodikin, ayah enam anak, adalah salah satu penerima manfaat. Wajahnya penuh syukur. Tangannya bergetar menyentuh becak barunya.
Becak itu bukan sekadar alat. Ia adalah penghormatan. Ia adalah pesan dari negara bila tak ada warga yang terlalu tua untuk diperhatikan. Bahwa keringat di usia senja bukan untuk diabaikan tapi untuk dihargai.***
Tim Redaksi

