Portal Pantura, Brebes – Dentuman kaleng, ketukan panci, hingga gesekan wajan mendadak berubah jadi musik ritmis di Desa Langkap, Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jumat (15/8/2025). Bukan orkestra, melainkan lomba unik bertajuk “Marching Blik”, bagian dari rangkaian perayaan HUT RI ke-80.
Lima kelompok dari tujuh RW di Desa Langkap tampil habis-habisan. Dengan modal alat dapur seadanya, mereka sukses menyulap jalan desa menjadi panggung musik jalanan. Irama yang dihasilkan memang tak sempurna, tapi kreativitas dan semangat kebersamaan membuat penonton terpikat.
Kaleng dan Ember Jadi Instrumen Andalan
Di tangan warga, kaleng, ember, tutup panci, hingga botol plastik berubah jadi alat musik penuh energi. Tak hanya suara, para peserta juga menambahkan tarian, kostum unik, dan gerakan khas. Rute pawai dimulai dari halaman TK ABA Langkap dan berakhir di SMPN 3 Bumiayu. Sepanjang jalan, ribuan warga tumpah ruah menyambut.
“Nilai utama bukan sekadar musik, tapi kekompakan dan kreativitas. Semakin sederhana alatnya, justru semakin menarik. Dan semua peserta tampil luar biasa,” kata E. Muji Lastuti, S.Pd, salah satu juri.
Sorakan Penonton Pecah di Jalan
Sejak bendera start dikibarkan, sorakan warga menggema. Anak-anak kecil paling heboh. Mereka menirukan gerakan peserta, bahkan ikut mengetuk botol plastik kosong. Jalan desa pun berubah jadi arena pesta rakyat.
Mustolih, Kepala Desa Langkap, menegaskan acara ini lebih dari sekadar hiburan. “Desa Langkap penuh keberagaman. Marching Blik ini bukti semangat persatuan dan rasa syukur atas kemerdekaan. Kita rayakan dengan cara kreatif dan membangun kebersamaan,” ucapnya.
Kisah di Balik Layar
Salah satu peserta yang menyedot perhatian adalah kelompok RT 05 RW 07 dengan nama “Capit Urang”. Ketua tim, Erwin, mengaku seluruh perlengkapan musik mereka hasil pinjaman dari dapur warga.
“Seadanya, tapi semangat kami total. Kami ingin tunjukkan cinta tanah air bisa diwujudkan lewat karya sederhana, asal ada kebersamaan,” ungkapnya.
Bukan hanya pemain yang sibuk. Para ibu rumah tangga menyiapkan kostum, pemuda melatih gerakan, sementara bapak-bapak mengatur rute dan keamanan. Semua kompak, semua terlibat.
Tradisi yang Harus Dilestarikan
Di tengah derasnya arus hiburan digital, “Marching Blik” jadi pengingat bahwa tradisi lokal tetap punya tempat. Kesederhanaan justru menciptakan kemeriahan yang autentik.
“Acara seperti ini jangan sampai hilang. Anak-anak muda harus mengenal sejarah kemerdekaan bukan hanya lewat buku, tapi juga lewat perayaan kreatif yang bikin mereka bangga,” harap salah satu warga.
Dentuman kaleng, tepuk tangan, dan sorak sorai warga Desa Langkap pada akhirnya menjadi bukti: merayakan kemerdekaan tidak butuh kemewahan. Cukup kreativitas, gotong royong, dan semangat persatuan.***
Tim Redaksi
