Portal Pantura, Tegal – Di ufuk timur Pulo Kodok, mentari pagi menyelinap di antara dedaunan cemara laut yang baru ditanam. Suara ombak berpadu dengan riuh rendah suara relawan menanam mangrove di tanah berlumpur.
Mereka relawan datang bukan sekadar menanam, tetapi membawa harapan: harapan untuk bumi yang lebih hijau, pesisir yang lebih kuat, dan masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya menjaga alam.
Jumat 9 Mei 2025 bukan hari biasa di Pulo Kodok, Tegal, Jawa Tengah tempat kecil mulai dikenal keindahan pantainya itu, ratusan orang berkumpul menyala memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menghijaukan pesisir.

Di garda terdepan aksi ini adalah Bravo Mawar Hijau satu kelompok aktivis lingkungan yang berkolaborasi dengan Aktivis Pengayom Hayati Hijau Indonesia, Pemkot Tegal, BKSDA, BP DAS PJ CDK 5, dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Mangrove dan cemara laut menjadi simbol perlawanan terhadap abrasi, perubahan iklim, kerusakan ekosistem.
Tanaman-tanaman ini tidak lah hanya sekadar penghias pantai mereka adalah garda pelindung, penyaring alami, dan penyimpan karbon yang kuat.
Di tengah isu akan pemanasan global dan meningkatnya permukaan laut, keberadaan vegetasi pantai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
“Pulo Kodok sangat strategis. Kita ingin ini jadi titik tumbuh, tempat belajar bersama bagaimana menjaga pantai, bukan sekadar nikmati keindahannya,” ujar Sudaryanto Bravo Mawar Hijau.
Aksi ini tidak hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang membangun koneksi antara manusia dan alam, komunitas pemerintah, generasi sekarang serta pula masa depan.
Yang istimewa dari kegiatan ini adalah luasnya kerja sama. Pemerintah, aktivis, warga duduk bersama, menyingsingkan lengan, dan menanam.
Mereka membuktikan bahwa kolaborasi bukan hanya jargon. Pokdarwis Pantai Pulo Kodok, sebagai perwakilan warga, bahkan menyampaikan langsung tiga usulan konkret kepada pemerintah kota.
Diantaranya peningkatan akses jalan, program perawatan lanjutan untuk tanaman (growing), dan pembangunan sabuk pantai yang kokoh.
Ketiga poin ini menjadi jembatan antara kerja-kerja simbolik dan aksi jangka panjang, bukan hanya seremonial Hari Bumi, tapi juga fondasi pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam setiap cangkul yang menancap ke tanah, ada pesan yang tertanam: bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak tak hanya menyadari pentingnya alam, tetapi ikut terlibat dalam menjaganya. Itulah perubahan paling mendasar yang ingin dicapai perubahan perilaku bukan sekadar pemandangan.
Bravo Mawar Hijau dan seluruh mitra telah menunjukkan bahwa harapan itu bisa tumbuh dari tanah berlumpur, dari semangat gotong royong, dari cinta pada bumi.
Di Pulo Kodok, hijau bukan lagi sekadar warna. Ia adalah sikap. Ia adalah janji. Dan di Hari Bumi ini, janji itu ditanam, disiram, dan terus dijaga bersama.***
Tim Redaksi
