Portal Pantura, Brebes – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, melakukan kunjungan kerja masa reses ke sentra industri bawang merah di Kabupaten Brebes, Senin (23/2/2026). Dalam agenda tersebut, ia meninjau langsung aktivitas pengolahan bawang merah di PT Sinergi Brebes Inovatif, Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari.
Kunjungan ini difokuskan pada penguatan sektor hortikultura, khususnya komoditas bawang merah yang selama ini menjadi andalan Brebes. Di lokasi, rombongan Komisi IV DPR RI melihat proses produksi bawang merah yang tidak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi telah diolah menjadi produk bernilai tambah seperti bawang goreng dan pasta bawang merah.
Dalam dialog bersama petani dan pengelola industri, Titiek menyoroti potensi ekonomi yang cukup besar dari komoditas tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, biaya produksi bawang merah per hektare berkisar Rp40 juta, sementara hasil panen dapat mencapai nilai penjualan hingga ratusan juta rupiah dalam satu musim tanam, tergantung kondisi cuaca dan harga pasar.
Ia juga mengapresiasi capaian ekspor bawang merah Brebes yang telah menembus sejumlah negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Selain itu, produk olahan berupa pasta bawang merah juga dikirim ke Arab Saudi untuk kebutuhan industri bumbu dan konsumsi jemaah Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa komoditas hortikultura lokal mampu bersaing di pasar internasional apabila didukung pengolahan yang baik dan manajemen distribusi yang terencana. Permintaan pasar luar negeri dinilai dapat menjadi solusi ketika terjadi kelebihan produksi di dalam negeri, sehingga harga di tingkat petani tetap stabil.
“Prospeknya sangat baik karena pasar dalam dan luar negeri sama-sama terbuka. Tinggal bagaimana penguatan fasilitas dan dukungan kebijakan bisa terus dilakukan,” ujarnya.
Meski demikian, dalam sesi diskusi, para petani menyampaikan sejumlah kebutuhan yang masih menjadi pekerjaan rumah. Di antaranya adalah pembangunan fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage) untuk menjaga kualitas hasil panen, ketersediaan pupuk yang stabil, serta penyediaan bibit unggul agar produktivitas tetap terjaga.
Menanggapi hal itu, Titiek menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dalam pembahasan di tingkat komisi. Ia menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur pertanian agar petani tidak hanya bergantung pada pola konvensional, tetapi juga mampu mengelola hasil panen secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Kunjungan kerja ini turut disambut Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, bersama Wakil Bupati Wurja, jajaran Forkopimda, serta pimpinan organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes.
Pemerintah daerah berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat semakin memperkuat posisi Brebes sebagai sentra bawang merah nasional. Selain menjaga produksi, pengembangan industri olahan dinilai menjadi kunci peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas.
Brebes selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung bawang merah terbesar di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, serta penguatan fasilitas pascapanen, komoditas ini diharapkan tidak hanya menopang perekonomian lokal, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekspor hortikultura nasional.
Upaya modernisasi dan ekspansi pasar dinilai menjadi langkah strategis agar bawang merah Brebes mampu bertahan di tengah persaingan global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.***

