Portal Pantura, Brebes – Sepetak dinding kosong atau pekarangan sempit ternyata bisa menjadi sumber penghasilan. Itulah yang dibuktikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) melalui program pertanian urban berbasis vertical garden di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes.
Program ini menyasar dua lokasi sekaligus, yakni Pasar Bangbayang dan Dusun Secang. Komoditas yang dikembangkan adalah kangkung dan selada air — dua jenis sayuran yang memiliki siklus panen singkat, permintaan pasar stabil, serta mudah dibudidayakan oleh siapa pun, termasuk warga yang tidak memiliki latar belakang pertanian.
Inovasi Tani Tanpa Lahan Luas
Vertical garden adalah metode bercocok tanam secara vertikal dengan memanfaatkan ruang terbatas, seperti dinding rumah, pagar, atau rak bertingkat. Media tanam yang digunakan pun tidak harus mahal — botol plastik bekas, pipa paralon, maupun wadah daur ulang lainnya bisa dimanfaatkan sebagai pot tanam.
Mahasiswa KKN UPB mengenalkan metode ini kepada warga sebagai solusi konkret atas keterbatasan lahan yang umum dihadapi masyarakat pedesaan. Selain hemat ruang, teknik ini juga relatif mudah dirawat, ramah lingkungan, dan menghasilkan tampilan estetis yang bisa memperindah lingkungan sekitar rumah.
“Pertanian modern tidak selalu identik dengan lahan luas dan modal besar. Dengan kreativitas dan bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar kita, masyarakat bisa menghasilkan produk sayuran segar bernilai jual,” kata Anisa Suci Lestari, salah satu mahasiswa KKN UPB yang terlibat dalam program ini.
Langsung Dipasarkan ke Pasar Tradisional
Hasil panen bibit kangkung dan selada air tidak sekadar dikonsumsi sendiri. Mahasiswa KKN UPB mendorong warga untuk memasarkan produk mereka secara langsung di Pasar Bangbayang dan wilayah Dusun Secang. Strategi pemasaran langsung ini dinilai efektif untuk memotong rantai distribusi, menjaga kesegaran produk, sekaligus mempererat hubungan antara produsen lokal dan konsumen.
Produk yang dijual langsung usai panen memiliki keunggulan kompetitif dibanding sayuran yang didatangkan dari luar daerah — lebih segar, harga lebih terjangkau, dan konsumen bisa berinteraksi langsung dengan petaninya. Kepercayaan konsumen pun lebih mudah terbangun.
Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga memberikan pelatihan pengemasan sederhana agar produk tampil lebih menarik di mata pembeli. Pengemasan yang baik terbukti meningkatkan persepsi nilai produk dan mendorong minat beli konsumen di pasar tradisional sekalipun.
Dampak Nyata bagi Ekonomi Warga
Program ini memberi sejumlah dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Warga yang sebelumnya memiliki pekarangan tidak produktif kini mampu menghasilkan pendapatan tambahan dari hasil penjualan sayuran. Lebih dari sekadar untung materi, program ini juga menumbuhkan keterampilan baru dan semangat berwirausaha di kalangan warga.
Masyarakat mulai melihat potensi ekonomi dari lingkungan terdekat mereka sendiri. Inilah yang dimaksud dengan ekonomi kreatif berbasis lokal — bukan hanya soal industri kerajinan atau produk digital, tetapi juga inovasi pertanian yang memberi nilai tambah dan bisa berlanjut secara mandiri.

