IKLAN
News

Pasar Induk Bumiayu Terancam Mati, Pedagang Menyusut 30 Persen Akibat Atap Bocor dan Lantai Rusak

Avatar photo
×

Pasar Induk Bumiayu Terancam Mati, Pedagang Menyusut 30 Persen Akibat Atap Bocor dan Lantai Rusak

Sebarkan artikel ini

Portal Pantura, – Pasar Induk Bumiayu kini dalam kondisi memprihatinkan. Fasilitas pasar yang rusak parah membuat ratusan pedagang memilih hengkang.

Dalam beberaoa tahun terakhir, jumlah pedagang menyusut drastis. Dari 600 pedagang, kini tersisa 400 orang saja. Artinya, ada penurunan sekitar 30 persen.

Kerusakan Merata di Empat Baris Kios

IKLAN

Muhammad Nurofik, Kepala Pasar Induk Bumiayu, mengungkapkan kerusakan terjadi hampir di seluruh area. Empat lin atau baris kios sepanjang 100 meter mengalami kerusakan berat.

“Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kami sudah berkali-kali mengusulkan perbaikan ke pemerintah daerah,” kata Nurofik, Kamis (24/10/2025).

Sayangnya, hingga kini usulan perbaikan belum mendapat realisasi. Padahal kerusakan semakin parah setiap musim hujan tiba.

Atap Bocor di Puluhan Titik

Masalah utama adalah atap pasar yang bocor di mana-mana. Saat hujan deras, air langsung masuk ke dalam kios pedagang.

Bocor terjadi di puluhan titik. Genangan air pun tak terhindarkan. Bahkan lorong pasar berubah seperti sungai kecil saat hujan lebat.

“Air mengalir deras di lorong. Pedagang kesulitan melayani pembeli,” ungkap Nurofik.

Kondisi ini tentu sangat merugikan pedagang. Barang dagangan terendam air. Pembeli juga enggan datang karena becek dan kumuh.

Lantai Rusak Parah, Ubin Pecah dan Berlubang

Selain atap bocor, lantai pasar juga rusak parah. Ubin banyak yang pecah dan berlubang. Kerusakan terjadi karena terus tergenang air hujan.

Jalan dalam pasar tak layak lagi dilalui. Pedagang dan pembeli harus ekstra hati-hati saat berjalan. Risiko terpeleset atau tersandung sangat tinggi.

“Jalan dalam pasar rusak parah. Ubin pecah dan berlubang di sana-sini,” jelas Nurofik.

Genangan air yang tak kunjung surut membuat lantai semakin rusak. Suasana pasar pun terkesan kumuh dan tidak nyaman.

Pedagang Mulai Frustasi dan Berniat Pindah

Kondisi pasar yang memprihatinkan membuat pedagang frustasi. Banyak yang mengeluh dan berencana pindah ke tempat lain.

Salah satu penjual bakso yang enggan disebutkan namanya mengaku kesal. “Kalau begini terus, banyak pedagang mau pindah. Pasar ini benar-benar seperti sungai saat hujan,” ujarnya.

Pedagang pakaian dan makanan paling terdampak. Barang dagangan mereka mudah rusak jika terkena air.

Pedagang kelontong juga merasakan dampak serupa. Omzet menurun drastis karena pembeli malas datang.

Ancaman Matinya Pasar Tradisional

Nurofik memperingatkan, jika kondisi dibiarkan, Pasar Induk Bumiayu bisa mati perlahan. Pedagang akan terus berpindah ke pasar lain atau beralih ke platform digital.

“Jika tidak segera diperbaiki, pasar bisa mati perlahan-lahan,” tegas Nurofik.

Pasar tradisional memang tengah menghadapi tantangan berat. Selain bersaing dengan e-commerce, kondisi fisik pasar juga harus diperhatikan.

Tanpa perbaikan infrastruktur, pasar tradisional akan ditinggalkan pedagang dan pembeli.

Menunggu Respons Pemda

Hingga berita ini ditulis, Pemerintah Daerah belum memberikan tanggapan resmi. Usulan perbaikan yang sudah diajukan berkali-kali masih menunggu realisasi.

Pedagang berharap pemda segera turun tangan. Perbaikan menyeluruh sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan Pasar Induk Bumiayu.

Tanpa tindakan cepat, pasar yang menjadi penopang ekonomi rakyat ini terancam tutup. Ratusan pedagang bisa kehilangan mata pencaharian.

Pasar Induk Bumiayu kini benar-benar membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.***

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura