Portal Pantura, Brebes – Membiasakan cuci tangan pakai sabun merupakan langkah sederhana yang ampuh memutus rantai penularan penyakit pada anak dan keluarga. Kebiasaan penting ini perlu ditanamkan secara konsisten sejak dini di lingkungan rumah, sekolah, hingga masyarakat luas.
Pesan tegas tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, S.E., M.M., saat membuka acara peringatan kesehatan daerah. Agenda Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia 2026 tingkat Kabupaten Brebes dipusatkan di Desa Wanatawang, Kecamatan Songgom, Kamis, lima belas Oktober dua ribu dua puluh enam.
Waktu Penting dan Kesadaran Mencuci Tangan
Bupati menegaskan bahwa menjaga kesehatan masyarakat tidak perlu menunggu hingga timbulnya rasa sakit atau wabah. Langkah preventif dapat dimulai dari rutinitas harian berupa mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.
Visual tangan yang terlihat bersih secara kasat mata belum tentu menjamin kebebasan dari kuman penyakit. Oleh karena itu, kesadaran mencuci tangan harus diterapkan pada momen-momen kritis setiap harinya.
“Menjaga kesehatan tidak harus menunggu sakit. Ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan setiap hari, salah satunya membiasakan mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun dan air mengalir,” ujarnya.
Masyarakat diminta disiplin mencuci tangan sebelum makan, seusai menggunakan toilet, setelah beraktivitas outdoor, serta saat tangan kotor. Kedisiplinan ini wajib menjadi gaya hidup permanen, bukan sekadar respons sesaat saat perayaan acara.
Peran Anak dan Keluarga dalam Kebiasaan Sehat
Secara khusus, Bupati mengajak anak-anak yang hadir untuk menjadi agen perubahan di lingkungan terkecil mereka. Anak-anak diharapkan mampu menularkan kebiasaan positif ini kepada anggota keluarga di rumah masing-masing.
“Jangan hanya rajin mencuci tangan ketika ada acara seperti ini. Setelah pulang, lakukan juga di rumah. Ajak adik, kakak, ayah, dan ibu untuk melakukan hal yang sama,” pesannya.
Keluarga memegang peranan paling vital dalam membentuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara berkelanjutan. Orang tua dituntut menjadi teladan utama, sementara para guru bertugas memperkuat pembiasaan tersebut di lingkungan sekolah.
Peran Kader PKK dan Perangkat Daerah
Tim Penggerak PKK beserta seluruh kader tingkat kecamatan hingga dasawisma diminta aktif memperluas jangkauan edukasi. Sosialisasi dapat disisipkan dalam agenda posyandu, pertemuan rutin warga, hingga aksi kunjungan langsung ke rumah masyarakat.

