Portalpantura.com, Tegal- Suara dari gemuruh tanah bergerak perlahan lahan menghancurkan sebuah ketenangan di Desa Mendala, Sirampog Brebes.
Bencana tanah bergerak yang terjadi pada Kamis dini hari, 17 April 2025 lalu mengubah kehidupan ratusan warga dalam sekejap.
Rumah-rumah yang dulunya kokoh kini miring,genteng berjatuhan penghuninya terpaksa mengungsi ke posko darurat.
Tak kurang dari 400 jiwa kini bertahan dalam keterbatasan di tengah harapan akan pemulihan.
Di tengah situasi sulit itu, datang sebuah cercah kepedulian. Selasa, 6 Mei 2025 Perhutani KPH Pekalongan Barat serta bersama dua serikat pekerjanya ke Desa Mandala Brebes.

Dua pekerja, Serikat Karyawan (Sekar) dan Serikat Pekerja serta juga Pegawai Perhutani (SP2P) menggelar aksi sosial bertajuk Perhutani Peduli.
Momentum Hari Buruh Internasional atau May Day dimaknai bukan dengan seremonial atau orasi, melainkan aksi nyata membantu sesama.
Rombongan Perhutani KPH Pekalongan Barat datang membawa bantuan, beras, mi instan, susu, dan popok bayi, barang-barang sederhana yang sangat berarti di tengah situasi darurat.
Bantuan itu diterima langsung Kepala Desa Mendala,.Sirampog Muhamad Basori, mewakili warganya yang tengah berjuang bangkit dari keterpurukan.
“Ini bukan soal jumlah. Tapi tentang rasa. Kalau kita punya materi berbagilah dengan materi.
Kalau tenaga atau pikiran yang kita punya, berbagilah dengannya,” ucap Prasetyo Lukito, Administratur KPH Pekalongan Barat, saat menyerahkan bantuan secara simbolis.
Ucapannya singkat namun dalam makna mengandung filosofi solidaritas yang tak lekang oleh waktu.
Prasetyo menegaskan bahwa Perhutani bukan hanya pengelola hutan, tapi juga bagian dari masyarakat.
Ia berharap keberadaan Perhutani bisa terus membawa manfaat, tak hanya secara ekologis, tetapi juga secara sosial.
Bagi Kepala Desa Mendala, kedatangan rombongan Perhutani bukan sekadar kunjungan seremonial.
“Kami merasa tidak sendiri,” ujarnya. Basori mengenang kembali bagaimana tanah bergerak datang tanpa permisi.
Kini warganya harus bertahan di posko, dengan harapan dan doa agar tanah segera stabil dan hidup bisa kembali normal.
Bencana memang tidak pernah bisa kita diprediksi. Tapi di tengah kehancuran, manusia selalu bisa memilih, bersikap acuh atau hadir sebagai penolong.
Dan pada Hari Buruh Perhutani beserta para pekerjanya memilih untuk hadir, menepikan tuntutan dan memilih peran kemanusiaan.
May Day bukan lagi semata soal hak buruh, tetapi juga tentang bagaimana buruh melalui serikat dan lembaga ikut memberi makna bagi sesama di Desa Mendala dan mereka hadir tak sebagai tamu, melainkan sebagai saudara.***
Tim Redaksi

